Obrolan sama temenku yang baru nikah
“Gimana ya for ngitung masa subur yang bener itu, kok hitunganku sama aplikasi di HP beda”
“Halaahh, ngapain gak usah pake gitu2. Yang penting gassss… Jadi jadi... Lha aku kalo semisal sering sama cwk kayanya anakku udah dimana-mana”
Iship kalo jaga sama aku gak boleh gak pintar. Turun jaga harus jadi lebih pintar dari sebelum jaga.
“Ooh, paham. Jadi maksudnya kamu masih pengen perhatianku, keberadaanku, rasa nyaman pas sama aku, tapi di saat yang sama kmu juga masih penasaran sama yang lain dan masih pengen nyoba deket sama yang lain juga, gitu kan?
U pikir u flower? Sukses deh yaa, adios 👋”
Biasanya STEMI (serangan jantung) sih yang bikin mati mendadak kaya gini. Oklusi total di LMCA atau RCA proximal.
Yang dikutip Yesus adalah Syahadat orang Yahudi yang disebut “Shema”
“Shema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai echad”
“Ve'ahavta et Adonai Eloheikha bekhol-levavkha u'vekhol nafshekha u'vekhol me'odekha”
Dalam Kitab Ulangan pasal 6 ayat 5 :
Dengarlah wahai Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa.
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu
Dalam versi paralel Injil Markus, dicatat lengkap bahwa Yesus mengucapkan “Shema” in the full form.
Dan bagian kedua dari ayat ini, kasihilah sesamamu manusia, juga diambil dari Hukum Taurat, dalam kitab Imamat 19:18.
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN
Dan pertanyaan orang-orang Farisi yang mencobai Yesus ini dilayangkan dalam konteks mencobai kompetensiNya sebagai Rabi.
Ya, semua sapaan “Guru” dalam terjamahan Alkitab bahasa Indonesia kita, sebenarnya adalah “Rabi”.
Alasan orang-orang Yahudi mau mendengarkan dan mengikutiNya karena Ia adalah seorang Rabi Yahudi.
Dalam KemanusiaanNya, Yesus tidak hanya berkarya sebagai tukang kayu, tapi Ia berprofesi sebagai seorang Rabi.
Nikodemus (Naq’demon ben Guryon) seorang Rabi terkemuka di masa itu, yang mengajar di Bait Allah, memanggil Yesus dengan sebutan “Rabi” tertulis dalam injil Yohanes pasal 3 ayat 2.
In this context, hukum-hukum dalam Perjanjian Baru bukanlah pengganti dari hukum Taurat Musa, melainkan re-interpretasi dan implementasi dari hukum tersebut.
Dan yang mengajar bukan Rabi sembarang Rabi, melainkan Allah sendiri, yang datang dalam wujud manusia sebagai seorang Rabi.
Ini juga menjawab pertanyaan, kemana Yesus saat usia 12-30 tahun? Jawabannya Ia mengikuti jenjang pendidikan untuk menjadi seorang Rabi.
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
~~~
Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37–40).
Keduanya tidak dipisahkan oleh Yesus.
Menjadi dekat dengan Tuhan tetapi jauh dari sesama adalah sebuah kontradiksi. Banyak orang yang saat ini bisa terlihat sangat religius, rajin beribadah, fasih mengutip Kitab Suci, memenuhi media sosial dengan kata-kata rohani, bahkan aktif melayani.
Namun semua itu kehilangan maknanya kalau kita tetap mudah merendahkan, membenci, menutup mata terhadap penderitaan, atau hanya peduli kepada manusia yang satu kelompok dengan kita. Iman bukan sesuatu yang menggambarkan tentang seberapa dekat kita terlihat dengan Tuhan. Ukurannya justru sering tampak dari seberapa manusiawi kita memperlakukan manusia lain.
Yesus menggunakan kata “sesama”, bukan orang yang kita sukai. Jangan pandang sesama sebagai “orang lain”, tetapi sebagai sahabat, yaktu manusia yang kehidupan dan penderitaannya juga layak menjadi urusan kita.
Ketika hutan terbakar dan asap masuk ke rumah-rumah, kasih kepada sesama berarti kita tidak berhenti pada kalimat “itu terjadi jauh dari tempatku.”
Kebakaran masih terjadi di berbagai wilayah dan puluhan ribu personel dikerahkan untuk menanganinya. Ada manusia yang menghirup asap, ada petugas dan relawan yang mempertaruhkan tenaga di lapangan, ada kehidupan dan lingkungan yang rusak.
Merawat bumi bukan pengganti kasih kepada manusia, justru menjadi salah satu bentuknya. Sulit mengatakan kita mengasihi sesama sambil tidak peduli ketika ruang hidup sesama dihancurkan.
Yesus tidak meminta kita memilih antara mencintai Tuhan atau mencintai manusia. Ia justru menyatukan keduanya. Semakin kita mendekat kepada Tuhan, seharusnya semakin sulit bagi kita untuk menganggap penderitaan orang lain sebagai bukan urusanku kita.
Doa yang membawa kita dekat kepada Tuhan seharusnya membuat mata kita semakin terbuka terhadap manusia di sebelah kita. Jangan sampai kita begitu sibuk menunjukkan bahwa kita adalah sahabat Tuhan, sampai lupa menjadi sahabat bagi sesama.
Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati!
Foreign body retweeted
Sadly, we have been informed that the number of martyrs from the terrorist attack on St George’s Church in Jordan has risen from 7 to 9.
We pray for our brothers who have borne witness to Christ through their martyrdom, as well as for the swift recovery of the injured.
Orangnya ngelike tweet ini tadi pagi wkwkwk
Can’t say much but he’s one of the most talented person I know
And I know he still wears my shirt on his content sometimes




























