Fajar Banni Putra retweeted
Film pendek asal Iran ini punya plot twist yang bisa bikin lo mendadak diam setelah menontonnya. 🥹❤️
Di tengah kemacetan, sepasang suami istri bertengkar di dalam mobil, sementara anak perempuan mereka duduk di kursi belakang, menyaksikan pertengkaran itu.
Di mobil sebelah, seorang kakek bersama nenek memperhatikan kejadian tersebut.
Melihat si anak murung, kakek itu mulai membuat ekspresi wajah lucu untuk menghiburnya. Kemudian dia mengambil bunga yang dibawanya dan memberikannya kepada pasangan yang sedang bertengkar.
Keduanya tampak heran, tetapi tetap menerima bunga dan kebaikan sang kakek.
Lalu terungkap sesuatu yang mengubah seluruh makna cerita.
Nenek yang sejak tadi terlihat menemani kakek itu ternyata sudah meninggal. Sosoknya adalah bagian dari kenangan sang kakek.
Bunga yang diberikan kepada pasangan tadi sebenarnya hendak dibawanya untuk berziarah ke makam sang istri.
Bayangkan, seseorang yang sudah kehilangan pasangan hidupnya justru berusaha mengingatkan pasangan lain agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan yang masih mereka miliki.
Netizen dari berbagai negara memuji film ini. Bahkan ada yang mengatakan puisi di bagian akhirnya jauh lebih menyentuh jika kita memahami bahasa Persia.
Kadang orang yang paling memahami berharganya kebersamaan adalah mereka yang sudah tidak punya kesempatan untuk mengulanginya. 💔
Fajar Banni Putra retweeted
Pernyataan Sikap atas Jumpa Pers Kepala Kepolisian Daerah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah
Yg saya dan masyarakat tanyakan adalah cara aparat memperlakukan anak-anak perempuan. Yg dijawab justru terorisme dan izin pesantren.
Saya telah menyimak jumpa pers Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Mapolda Jateng, Jumat, 30 Oktober 2026. Saya menghargai komitmen Pemerintah Provinsi untuk memberikan pendampingan psikologis dan menjamin keberlanjutan pendidikan anak-anak yg terdampak. Itu langkah yg benar.
Namun dengan berat hati saya harus mengatakan: jumpa pers itu tidak menjawab pertanyaan publik. Masyarakat umum, MUI, PBNU, ormas Islam, dan para wakil rakyat tidak sedang mempersoalkan apakah polisi boleh memburu buronan. Yg dipersoalkan adalah mengapa pintu asrama putri didobrak pukul 03.20 dini hari? Mengapa anak-anak ditodong laras panjang sebelum sempat menutup aurat? Dan mengapa mereka diperiksa tanpa didampingi wali? Pertanyaan itu malah dijawab dengan dua topik lain: terorisme dan administrasi pesantren.
Bagaimana pun, masa lalu tersangka bukan dosa para santriwati!
Dalam jumpa pers disebutkan bahwa tersangka dan buronan kasus pembakaran warung adalah mantan narapidana terorisme. Saya tidak membantah informasi itu, dan saya mendukung penuh perburuan terhadap pelaku. Tetapi rekam jejak dua orang dewasa tidak boleh ditempelkan pada belasan anak perempuan yg sedang tidur di asramanya.
Polda Jateng sendiri menyatakan belum menyimpulkan adanya kaitan kedua lokasi dengan jaringan terorisme. Buronan yg dicari tidak ditemukan di sana. Para santriwati yg dibawa berstatus saksi, bukan tersangka. Maka, mengaitkan peristiwa ini dengan terorisme di hadapan kamera, sebelum ada kesimpulan apa pun, hanya akan melahirkan stigma yg menempel pada anak-anak itu seumur hidup.
Saya juga menyesalkan penyebutan bahwa para perempuan dan anak di lokasi mengenakan cadar. Pakaian adalah pilihan keyakinan yg dilindungi konstitusi, bukan petunjuk kejahatan. Menyebutnya dalam konteks penggeledahan buronan sama dengan mengajak publik mencurigai jutaan muslimah yg berpakaian serupa.
Jumpa pers juga menekankan bahwa lokasi di Mojolaban tidak terdaftar di Kementerian Agama, diduga merupakan rumah tahfidz mandiri tanpa izin operasional, dan tidak terkait dengan Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an di Jombang. Pemerintah Provinsi bahkan menyatakan akan melakukan penertiban.
Soal izin adalah urusan administrasi, dan itu bisa dibenahi bersama Kementerian Agama dengan cara yg baik. Tetapi status izin sebuah lembaga tidak mengurangi satu pun hak anak yg tinggal di dalamnya. Seorang santriwati di rumah tahfidz kecil di desa memiliki martabat dan perlindungan hukum yg sama dengan santri di pesantren besar mana pun.
Mengangkat isu perizinan setelah publik mempersoalkan prosedur penggeledahan memberi kesan bahwa korban sedang dicari-cari kesalahannya. Saya berharap kesan itu keliru. Saya juga berharap penertiban tidak dilakukan dengan menutup tempat belajar anak-anak ini sebelum seluruh fakta tentang malam itu diungkap. Jangan sampai mereka kehilangan dua kali: rasa aman, lalu kemudian tempat belajarnya.
Kapolda menyatakan penggeledahan dilakukan dengan izin pengadilan. Saya menghormati itu. Namun izin pengadilan memberi wewenang untuk menggeledah, bukan cek kosong untuk menggeledah dengan cara apa saja. Pertanyaan-pertanyaan berikut belum dan wajib untuk dijawab:
1. Mengapa penggeledahan asrama putri harus dilakukan pukul 03.20 dini hari dengan mendobrak pintu?
2. Apakah ada polisi wanita yg menangani para santriwati sejak awal, saat mereka belum mengenakan jilbab?
3. Mengapa anak-anak di bawah umur yg berstatus saksi diperiksa di Polsek tanpa didampingi wali, kuasa hukum, atau pendamping anak?
4. Bagaimana seorang balita berusia 5 tahun bisa terpisah dan baru ditemukan oleh warga?
5. Di mana berita acara penyitaan atas uang, emas, sepeda motor, dan barang pribadi lain yg menurut pengurus belum diterima hingga kini?
Sikap dan tuntutan saya:
1. Mendesak Kapolri memerintahkan Propam Polri memeriksa prosedur penggeledahan secara terbuka, terpisah dari penyidikan kasus pembakaran warung.
2. Meminta Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan KPAI turun langsung mengumpulkan keterangan para santriwati, ustadzah, dan orang tua/wali santriwati.
3. Meminta Polda Jateng memperlihatkan penetapan pengadilan dan berita acara penyitaan kepada pengurus, serta mengembalikan barang yg tidak terkait perkara.
4. Meminta Pemerintah Provinsi dan Kementerian Agama tidak menutup tempat belajar anak-anak ini sebelum hasil pemeriksaan keluar, dan memfasilitasi pengurusan izin bila diperlukan.
5. Mengajak media dan publik tidak melabeli para santriwati dengan stigma terorisme selama tidak ada kesimpulan hukum apa pun.
Mengusut pembakaran warung dan melindungi anak-anak perempuan bukanlah dua hal yg harus dipilih salah satunya. Negara yg kuat sanggup melakukan keduanya sekaligus. Polri hari ini mengusung semangat "Polisi Bersama Masyarakat". Semangat itu akan diuji bukan oleh jumpa pers, melainkan oleh keberanian memeriksa diri sendiri.
Saya akan terus mengawal kasus ini sampai para santriwati mendapat kejelasan, keadilan, dan pemulihan.
Hormat saya,
Azzam Mujahid Izzulhaq, Warga Negara Indonesia.
Tembusan:
1. Presiden Republik Indonesia @prabowo
2. Kapolri @SuyudiArioSeto
3. Ketua Komisi III DPR RI @habiburokhman
4. Ketua Kompolnas @kompolnas_ri
5. Ketua Komnas HAM @KomnasHAM
6. Ketua Komnas Perempuan @KomnasPerempuan
7. Ketua KPAI @KPAI_official
8. Kapolda Jawa Tengah @poldajateng_
9. Pengurus Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an, Mojolaban
Fajar Banni Putra retweeted
Jordan Henderson mengaku sangat terpukul dengan reaksi suporter Liverpool saat kembali ke Anfield bersama Chelsea.
“Saya selalu berdiri bersama klub ini melewati masa-masa penuh tekanan, kritik, dan kesulitan besar. Saya merayakan gelar-gelar besar bersama para penggemar. Saya mendedikasikan bertahun-tahun karier saya untuk Liverpool, dan tak pernah terbayangkan suatu hari saya kembali ke stadion ini, tetapi merasa semua kenangan itu tak lagi berarti bagi sebagian orang.
Kalian tidak harus menyukai saya sekarang karena saya bermain untuk Chelsea. Namun, tolong jangan hapus semua sejarah yang saya ciptakan bersama Liverpool hanya karena hari ini saya mengenakan seragam dengan warna berbeda.
Saya akan selalu menghormati Liverpool, tetapi saya berbohong jika mengatakan bahwa malam ini tidak sedikit menghancurkan hati saya.”
Fajar Banni Putra retweeted
Di tengah kobaran api yang melanda hutan, seekor induk rubah dikisahkan memilih melindungi anaknya daripada menyelamatkan dirinya sendiri. Saat api semakin mendekat, sang induk tetap berada di atas anaknya, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung dari panas dan ancaman kebakaran.
Sc:X/Jateng_Twit
Fajar Banni Putra retweeted
"I Will Complain About You AlI To Allah": Little Girl Speaks Out Against Azerbaijan's Hijab Ban💔
Aamiin.. Aamiin..
Mau sharing aja, guys. Kalau umroh, coba deh bawa camilan dari Indonesia, kemas dalam bungkus kecil-kecil kayak gini, lalu bawa ke masjid buat dibagikan ke anak-anak di sana.
Anak-anaknya banyak banget dan mereka senang sekali kalau dikasih camilan. Sesederhana itu, tapi melihat senyum tulus mereka rasanya bikin hati adem. Kebahagiaan mereka ikut menular ke kita 🥹🫶🏻
Ah, jadi kangen banget. Semoga Allah segera mengundang kita kembali ke Tanah Suci. Aamiin 🤍
Fajar Banni Putra retweeted
🚨Coaimhin Kelleher reveals his conversation with Alisson after the game.
Coaimhin Kelleher 🗣️“After the game I went straight up to him because I’ve miss him so much since I left Liverpool for Brentford, then after I hug him, he Jokingly said why was I making those crazy saves against them, and I just laughed and said it’s my duty.”
He added that Liverpool have miss me a lot and wish to see me again in the red at Anfield, I replied that Liverpool will always be my home and I wish to be there again one day as well like he said.”
“He then said see you soon and laugh while he walk away, I remember when I use to learn and take advices from what he said to me during training, his quiet the best goalkeeper I’ve ever worked with in a club.”
And of course I will love to be back in the Liverpool red one day, who knows the future, it’s crazy how time flies and decisions change along the way.
“I know he is going to be leaving anytime soon and will love to be back as a first goalkeeper, hopefully.”
Fajar Banni Putra retweeted
When they wear bikini or nothing It's women's choice
But when a women covers up It's against law ??!
Fajar Banni Putra retweeted
Postcard from Mecca n Medina,
yg banyak emg footage bubu n ajan
kalo baba? Ya udah happy aja asal mereka happy :)))
Fajar Banni Putra retweeted
Anger is growing in Azerbaijan after girls wearing hijabs were barred from schools under new uniform rules.
Students and teachers have staged demonstrations, while dozens have reportedly been arrested and users report disruptions to social media platforms.
Video: Azerbaijan's hijab restrictions spark school protests
More on aljazeera.com
Fajar Banni Putra retweeted
Azerbaijani Hijabi girls wave their fellow students through the window as they leave the school due to the recent Hijab ban.
























