Wies Utari retweeted
Andi Supriyatin, 41 tahun, pedagang singkong dari Pekalongan, ditangkap polisi di Jakarta pada Rabu (28/10) pagi.
Sebelum ditangkap, Andi mengayuh sepedanya dari Pekalongan ke Jakarta utk berpartisipasi dlm aksi 28 Oktober.
Sampai sekarang, Andi belum dibebaskan. Dia dituding melakukan penghasutan untuk melawan penguasa.
Sementara itu, institusi dan pejabat yg melakukan pembohongan publik, melakukan manipulasi persepsi, melanggar UU Keterbukaan Informasi Publik, serta memperkeruh konflik sosial dgn menyewa mahasiswa abal2, selesai dgn cuma minta maaf.
regional.kompas.com/read/202…
Wies Utari retweeted
Halo warga, tolong bantu viralkan ya!
Jadi, kemarin sore aku dan pacarku mau jalan-jalan ke daerah Sentul. Tapi tiba-tiba motor kami mulai macet-macet. Karena takut kerusakannya makin parah, akhirnya kami terpaksa mampir ke bengkel terdekat.
Awalnya kami nggak curiga sama sekali karena bengkel itu kelihatannya sepi dan semua mekaniknya ramah. Ada sekitar tiga orang yang menangani motor kami.
Pacarku lalu nanya ke salah satu mekanik, apa aja yang perlu diperbaiki dan berapa biaya servisnya. Orang itu bilang, “Oh, saringan bensin, Bang, harus diganti. Biayanya Rp85 ribu, udah termasuk servis.”
Akhirnya kami setuju buat ganti saringan bensin. Semua berjalan lancar sampai motor selesai diperbaiki. Tapi tiba-tiba tagihannya malah mencapai Rp710 ribu!
Aku dan pacarku kaget banget karena dari awal yang dibilang cuma Rp85 ribu, sudah termasuk servis. Kami juga cuma bawa uang secukupnya karena niat awalnya memang mau jalan-jalan.
Kami nggak terima karena jumlahnya jauh banget dari harga awal. Kami minta keringanan dan menjelaskan bahwa salah satu mekaniknya sendiri yang bilang biayanya cuma Rp85 ribu. Tapi mereka malah mengelak.
Nggak lama kemudian, bos bengkel datang naik motor bareng seorang perempuan. Kami kembali minta keringanan karena dari awal biaya yang disampaikan nggak sebesar itu. Tapi bosnya malah bilang, “Ya udah bayar aja, saya nggak tahu mekaniknya yang ngerjain.”
Akhirnya sempat terjadi adu mulut, tapi mau nggak mau kami tetap membayar Rp710 ribu itu. Kami bahkan nggak sempat merekam kejadian karena sudah terlalu kesal dan marah.
Uang yang harusnya bisa dipakai buat jalan-jalan dan kebutuhan beberapa hari malah habis buat bayar bengkel. Akhirnya kami batal jalan-jalan dan pulang dengan perasaan kesal.
Setelah itu, aku cari di Google dan baru tahu kalau bengkel tersebut katanya sering menipu dan menjebak orang. Jadi, hati-hati ya, guys. Jangan sampai kejadian seperti yang kami alami terulang ke kalian.
FYI, dulu nama bengkelnya HEN'S MOTOR, tapi sekarang mereka sudah nggak pakai nama lagi.
Wies Utari retweeted
Dinsos mana dinsos?
Tiga anak perempuan ini kabarnya tidur dan BAB di jalanan.
Ibunya kabur, bapaknya disebut ga waras, makan dari sisa makanan di tong sampah.
Lokasi: Cipinang kebembem kota jakarta timur.
Bantu tag dinsos terkait, agar segera diverifikasi info ini dan dievakuasi!
Wies Utari retweeted
Hmmm... Miris 😭
Terima kasih Bu Bupati ...🙏
Terus perjuangkan warganya, semangat
Wies Utari retweeted
Halo Pak Fahmi Razetya Suratman, deg-degan nggak, Pak? 🤭
Walaupun nama Bapak nggak disebut, tapi saya yang mau sebutin hehe.
Enak ya jadi Kalapas di Lapas Pasuruan, Pak? 😌
Kemarin waktu masih di Cibinong, Bapak kan yang ngisi furniture bareng Hermanto, hehe.
Jujur aja nih, Pak. Daripada saya makin gatel dan terus korek-korek 🤭
Harley dari Cibinong udah dipanasin belum, Pak? 🤭
Wies Utari retweeted
🕊️Selamat Jalan PAHLAWAN Kesehatan ..
Para Medis ini ditelanjangi dan diperkosa oleh belasan OPM di dalam Puskesmas..
Yang lebih menyayat lagi dia hangus dibakar bersama Puskesmas , tempat dia dengan tulus mengabdikan dirinya ...
Ya Allah berikan Adzab Yg setimpal utk mereka🤲🏻🕊️
Wies Utari retweeted
KASUS SUAP ALSTOM–MARUBENI
DI INDONESIA
Nama proyek: PLTU Tarahan
Lokasi: Tarahan, Lampung
Nilai kontrak: sekitar US$118 juta 2002-2009.
Aktor utama: Emir Moeis
Wies Utari retweeted
Innalillahi....
mediaindonesia.com/humaniora…
Wies Utari retweeted
Replying to @newIding30 @godham5 @mikuroQ @CasanovaX8X @RPrima789 @bungFirmanSaja @Denisobri22 @Oodhi_tah @CeritadrTimur @qimprutdalban @Jelli_cent @PutraFakir79518 @A1970Renggana @jajangkomar867 @tokaidirecycle @malesmikir33 @PinontoanUtari
Negri ini banyak manusia2 jujur. Jadi pastikan Pejabat2 korup wajib dihukum mati.
Wies Utari retweeted
Hmmm... Mendem 🤭
"NEGERI DINASTI"
@LuckyLaki24
@CeritadrTimur
@LvElvi1
@PutraFakir79518
@InonkIskandar88
@JoenWoen_09
@soyine_id
@WafeeAhmad
@Hermoyliana
@Triyogo22684337
@rasminsadin
@AhmadKhaikal2
@yosudarman
@AngingMamiri
@bonapasogit24
@HafsaHerma41994
@YustusHarefa
🙏🔁😚
Wies Utari retweeted
Anak ini dirawat sama ortu angkat sampai usia 14 bulan, tiba2 diambil oleh Ibu kandung dan pacarnya nggak nyampe 12 jam anak ini udah meninggal dunia dgn cara nggak wajar.
Real Ibu kandungnya titisan Iblis, anak udah anteng dirawat orangtua angkat malah diambil terus dianiaya!
Kini ortu angkat sudah melaporkan hal ini ke pihak yg berwajib tapi blm ada kejelasan apa2..
Wies Utari retweeted
BREAKING🚨
Pemblokiran atas permintaan aparat penegak hukum
Bank Mandiri Minta Maaf Blokir Rekening Koordinator AMPB: Permintaan Aparat.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, pun menyampaikan permohonan maaf terkait pemblokiran tersebut.
“Bank Mandiri memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada nasabah terkait pemblokiran rekening,” kata Adhika dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/8/2026).
Adhika menjelaskan, pemblokiran tersebut merupakan permintaan dari aparat penegak hukum. Ia menyebut Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG), kepatuhan, dan kehati-hatian dalam menjalankan layanan perbankan.
Wies Utari retweeted
Camat Lamba Leda Utara (Manggarai Timur), Agustinus Supratman, meluapkan amarahnya hingga membanting paket logistik di hadapan petugas BNPB saat meninjau posko pengungsian gempa Flores (21/8/2026)...
Amarah sang Camat meledak, karena menolak tuduhan bahwa pihak kecamatan menghambat distribusi, sembari tegas membongkar bobroknya pendataan pusat...
Ketegangan memuncak saat Agustinus menolak keras menandatangani dokumen berita acara penyerahan bantuan...
Dia menemukan manipulasi data yang fatal: klaim bantuan di atas kertas dicatat melimpah, padahal barang fisik yang ada di lapangan sangat minim, hanya sekitar 300 paket sembako untuk menopang 21.171 jiwa di 11 desa terdampak...
"Bapak keterlaluan, bapak jual nama saya...!" tegas Agustinus yang gak terima namanya dicatut demi memoles laporan manis ke pusat...
Masuk hari ke-enam pascagempa, aksi berani sang Camat menjadi tamparan keras bagi BNPB agar berhenti merekayasa angka dan segera menyalurkan bantuan secara transparan serta merata demi penderitaan warga...!
Wies Utari retweeted
Kasus tewasnya Sutrimo kepala RT tersangka korupsi Jampidsus masih belum terungkap.
Kini ada satu saksi kunci kasus besar korupsi di bea cukai juga meninggal diduga bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri di kamar mandi ( KATA POLISI ).
Alm. Winda ini sudah dijadwalkan untuk dipanggil KPK dalam waktu dekat ini, tiba²... DOR..!!
Sekarang mainnya ngeri yak.. nyawa taruhannya.. klo jaman Soeharto bajingan² itu yg didor, skarang saksi?
Ada kekuatan besar & gelap di balik semua ini?
Wies Utari retweeted
Terjadi lagi!!
25/4/2026, Dr. Bassim Naim (Mantan Menteri Kesehatan Gaza & sosok penunjang pembangunan RS Indonesia di Gaza) kunjungannya ditolak imigrasi Indonesia.
Wies Utari retweeted
VI R A L K A N...!!! , Ayooo... Beginilah kondisi negara kita di beberapa daerah.... Bantu saudara kita yg didholimi..!!!💪💪💪
ini salah satu contoh korban kekejaman oligarki dan masih jutaan rakyat kecil didaerah2 yg juga menjadi korban keserakahan oligarki..!!!
Wies Utari retweeted
Gelombang demo yg membesar agar rakyat juga tidak ikut demo, jadi semua media elektronik, tv, online, radio, medsos sudah diblok agar tidak tersebar luas ke masyarakat. Makanya dibuat sunyi. Demokrasi yg dipressure dan dibungkam, itu namanya pembohongan publik
Wies Utari retweeted
They ate the same way for decades. One meal, split between the two of them, costing about eighteen yuan. That is roughly two and a half dollars.
Du Yingrong taught. Lu Suying was a doctor. They worked at the same college in Shanghai, they married, and they never had children.
Colleagues who knew them described a couple who did not appear to want for anything and did not appear to spend on anything either.
In early 2018, Du was walking past the Shanghai Yoda Cardiothoracic Hospital when he stopped in front of a poster.
It was an appeal. Children with congenital heart defects, families who could not pay for the operations.
He went home and talked to his wife. Then they donated half a million yuan, which funded surgery for ten children.
They kept going. Over the years that followed, the two of them gave away five million yuan in total, around seven hundred and thirty five thousand dollars, and it paid for operations on four hundred and fifty five children.
They told almost nobody.
Du passed away in 2018, aged eighty one. Lu just last year, aged ninety two.
The story only came out a few weeks ago, at a charity exhibition in Shanghai held in their memory, which is the first time most people had heard either of their names.
Four hundred and fifty five children were saved, and they did it for love, not for recognition.





























