Sok2an ngasih nasehat ke org lain. Emak lu noh nasehatin. Jangan jadi emak2 julid.
Replying to @Yuri_Anyya
Kalian bener-bener ga mau melek kalo kalian itu cuma ladang bisnis agama bagi arab saudi
Siapa tahu dengan ibadah haji penyakit ibumu sembuh. Tapi dengan sombongnya ibumu menolak dgn mengatakan "cuma buat muterin batu"
Inget ya, iblis dilaknat bukan karena bodoh, tapi karena sombong.
Mgkn penyakit ibumu adalah laknat dari Allah.
Inget banget mamaku ditawarin naik haji sama abangku yang religious terus mamaku ngejawab
"Lu kalo punya duit sebanyak itu mending lu sedekahin ke panti asuhan, mama kuat menghidupi kalian 4 anak sampe kalian semua lulus kuliah, kamu kira mama ga mampu biayain diri sendiri buat naik haji? Mama mampu tapi mama ogah
Ngapain? Bayar ratusan juta buat ke negara sejauh itu itu cuma buat muterin batu? Ga sudi, mama ada Arthritis kamu mau bikin mama lumpuh? lagian Allah kocak banget ngukur keseriusan ibadah umat dari duitnya"
Aku disamping dengerin mamaku sewoke ini tersenyum lebar ☺️
Komen pertama, dia nolak laki2 yg mau mendekati dia. Dan laki2nya mengerti dan menjauh. Tapi tetap aja dicap "laki2 cuma beban"
Replying to @alk2434 @apriedaze
bang, gue sering bilang ini ke temen cowo gue (syukur lah mereka mengerti) dan gue pernah bilang ini ke orang yg mau deketin gue, dan akhirnya mereka cabut sendiri wkwkwkwkwk. berani2 aja sih krna memang hidup lebih ringan tanpa laki2, soalnya KAUM KALIAN TUH kebanyakan BEBAN.
Pas ditanya "membebaninya" dimana?
Malah dibelokin jadi "laki2 gay"
Replying to @alk2434 @apriedaze
temen gue tuh gay btw😂
yg gue bilangin gue ga butuh cowo dan mereka langsung kabur yha kaum2 kayak elu yg ego nya kesentil ketika gue bilang cowo tuh beban dan mereka tersinggung. kalo cowo yg ‘bener’ mereka ga bakalan tersinggung krna mereka tau mereka ga seperti itu😂
Yes, of course. You have the right to do whatever you want with your body (sex, drugs, alcohol, etc.). But don't cast yourself as a victim when you have to face the consequences of those actions and dismiss them as merely a hormonal issue.
Padahal, laki2 dan perempuan punya musuh bersama, yaitu kriminalitas, kejahatan seksual, dan moralitas yg buruk.
Tapi para perempuan malah mengeneralisir semua laki2 itu kriminal, berbahaya, dan memiliki moral yg buruk.
Perempuan2 kaya gini merusak social trust di real life.
unavailable
Dari pada legalisasi aborsi, menurut gue mending legalisasi Eutanasia atau Physician-Assisted Suicide (PAS) aja.
Kenapa sih, perempuan itu kalo nge-date harus make-up?
Biar terlihat cantik kah? Gak pede kah dgn muka aslinya?
Padahal berpakaian rapi, bersih, sesuai tempat, dan tubuh serta wangi sudah lebih dari cukup.
Patriarki membatasi perempuan: gak boleh ini, gak boleh itu.
Feminisme mendikte perempuan: harus begini, harus begitu.
Dua-duanya sama aja. Sama-sama maksa, egosentris, ingin mendominasi, & dogmatis.
Line up Indonesia vs Singapura.
Seharusnya jangan cuma sepakbola aja, tapi seluruh cabor aja sekalian pakai pemain diaspora/naturalisasi.
Basket, voli, tinju, pembalap, bulu tangkis, dan lain2.
Atlit lokal jadi penonton aja.
#fifaaseancup
Bundir masuk neraka hanya akal2an para saudagar2 kaya pada zaman dahulu, agar para budak tidak bundir.
Kalo semua budak bundir, saudagar2 kaya akan rugi. Makanya ditakut2in masuk neraka dan kekal di neraka. Biar para budak tetap hidup.
Undang2 perlindungan anak, sebenrnya utk melindungi korban, atau melindungi pelaku?
Siswa SMP di Sragen Divonis 2,5 Tahun, Eksekusi Ditunda hingga Lulus Sekolah
SRAGEN — Seorang siswa SMP berinisial DTP (14), asal Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, dijatuhi hukuman 2 tahun 6 bulan setelah dinyatakan terbukti melakukan kekerasan terhadap anak yang berujung pada kematian korban.
Putusan tersebut dibacakan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Senin (7/9/2026). Majelis hakim juga menetapkan DTP menjalani pidana di LPKA Kelas I Kutoarjo serta membayar restitusi sebesar Rp76.015.770,40 kepada keluarga korban.
Namun, pelaksanaan hukuman terhadap DTP belum dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, terdakwa yang masih berusia 14 tahun tersebut saat ini duduk di kelas IX SMP dan masih harus menyelesaikan pendidikannya.
Jaksa diperkirakan baru melakukan eksekusi setelah DTP menyelesaikan sekolahnya pada 2027.
Sembari menunggu proses tersebut, DTP dititipkan di IPWL Yayasan Lentera Bangsa Indonesia (YLBI) di Kecamatan Tanon. Selama berada di sana, ia tetap berada dalam pengawasan jaksa.
Kasi Pidum Kejari Sragen, Andhika Nugraha Triputra, menyebut putusan majelis hakim sama dengan tuntutan yang sebelumnya diajukan jaksa.
Menurutnya, perkara tersebut bermula dari tindakan kekerasan berupa pukulan menggunakan tangan terbuka ke bagian kepala korban. Tindakan tersebut kemudian berujung pada meninggalnya korban.
Atas putusan itu, pihak jaksa masih menyatakan pikir-pikir sebelum menentukan langkah hukum selanjutnya.
Gak semua hal bisa dibijak2in. Kesannya terlalu maksa, jadinya cringe.
Kalo tujuannya ingin menjadi manusia seutuhnya (gak merasa ketinggian/rendah), cukup dgn tidak membanding2kan diri kita dgn org lain.
Mantra anda malah terkesan seperti orang yg merasa paling suci.
Alkahfi Fadilah retweeted
kalian yg perempuan mau ga kalo suami kalian jadi "bapak rumah tangga"
yg ngurus semua kebutuhan rumah, bersih-bersih, masak, ngurus anak dll, sedangkan kalian yg kerja?














