Kaitannya dgn debat yg rame di thread ttg Tan Malaka, gw up pernyataan ini lagi
I never admire that influencer whom people hype up so much that they usually call him ....bla bla bla... al ghaib
I can respect parts of what he does, some actions take guts, and a couple opinions hit home and make sense. Credit where it's due.
But admiration? Nah, never... or not yet.
Something just feels off, suspicious vibes. Sorry
Kawan Diskusi retweeted
Di bawah ini contoh setelah kalian ajuin banding X dan bandingan kalian dibales via email
Yang warna hitam, banding kalian diterima kemudian di un🐋 dan revenue sharing kalian kembali normal
Yang warna putih, banding kalian ditolak karena terdeteksi manipulasi platform juga spam dan kena 🐋permanen
Apakah 🐋permanen bisa normal lagi?
bisa, silakan banding lagi, kalo perlu DM premium sekalian
Intinnya yang warna hitam bisa jadi kesalahan sistem dan yang putih karena akun kalian melanggar aturan
Semoga yang 🐋dibales gambar hitam
Kawan2, apakah revenue akun X bisa di-pause karena tidak mengaktifkan verifikasi 2-langkah (two-factor authentication)?
Kawan Diskusi retweeted
Siapa disini yang belum tahu perbedaan mendasar antara Data Analyst, Data Engineer, dan Data Scientist? Gua akan jelaskan secara singkat.
📊 DATA ANALYST
→ Jawab pertanyaan bisnis pakai data historis
→ Tools: Python, SQL, Excel, Tableau, Power BI
→ Output: insight & dashboard
🔧 DATA ENGINEER
→ Bangun pipeline & infrastruktur data
→ Tools: Python, Spark, dbt, Airflow
→ Output: data yang BERSIH dan siap pakai
🤖 DATA SCIENTIST
→ Bangun model yang prediktif & statistik lanjutan
→ Tools: Python, R, ML frameworks
→ Output: prediksi & automate recommendation
Kira-kira seperti itu perbedaannya. Nah, apakah kalian sebuah persamaan diantara ketiganya ?
Kawan Diskusi retweeted
Replying to @aik_arif
jabar.antaranews.com/berita/…
*SEMOGA TIDAK DIHAPUS KOMDIGI*😷
_Balita tersebut menghembuskan nafas terakhir dengan diagnosa karena syok septik, di mana sejak awal penangan terdapat riwayat diare._
Kawan Diskusi retweeted
Kalau konten kalian ga gue reply, bukan karena gue jaga perasaan ya capt. Itu semua murni karena ga lewat TL gue ajaa. Semua yg ada di TL gue sebisa mungkin gue rep. Minimal banget kalau gue bingung mo rep apa ya gue like lah 🙏
Jadi, kalau ada mutual gue yg punya konten menarik dan minta direply dm aja. Kalau masuk pasti gue usahakan untuk QRT juga biar konten lo jangkauannya lebih luas lagi 👌
Kekompakan bapak2 kompleks itu salah satunya diuji di kepengurusan masjid.
Sekali konflik, bisa saling tidak menyapa 😂
xitter.gq/nurdiyansah/status/204… Kafe swasta adalah private property. Pemilik berhak mendefinisikan konsep bisnisnya (seperti vegan cafe, Japanese-themed cafe, atau misalnya ladies-only spa) selama tidak melanggar hukum publik.
Kritik berbasis perasaan "sok eksklusif" mengabaikan preferensi konsumen mayoritas dan data empiris soal manfaat niche businesses. Jika kafe tersebut rugi karena terlalu eksklusif, ya pasar yang akan menghukum.
Inklusivitas bukan berarti semua tempat harus mixed dan netral. Itu justru mengurangi keberagaman. Masyarakat bebas punya: cafe party dengan alkohol/musik, cafe vegan, begitu juga cafe syariah (no musik, halal, gender-sensitive).
Pelanggan yang tidak suka cukup tidak datang (exit option dalam ekonomi pasar). Tidak perlu memaksa semua bisnis mengikuti satu standar sekuler-liberal.
Kawan Diskusi retweeted
Hi guys. Seberapapun besar impresi/ER alian tp kalo kena penyakit ini bakal percuma.
Aku calling buat kalian untuk bantu ulik sb indexing, parameter kuat penentu payout atau engga.
Lewat ss ini semoga kalian paham 👇
Kawan Diskusi retweeted
Kereta Rute Terjauh Kedua di Indonesia 1002 KM telah rilis!
KA Sangkuriang rute Bandung - Ketapang beroperasi mulai 1 Mei 2026 melayani kelas Compartment Suites, Eksekutif, Premium
Tiket sudah dapat dipesan melalui Access by KAI atau Olinine Travel Agent (OTA)
*M4
Friendly Reminder untuk yang mau Jumatan: Pahala Jumat bisa hilang/tidak sempurna jika berbicara ketika khutbah sedang berlangsung, bahkan jika sekadar bilang “diam” atau “shh” kepada orang lain.
ANAK SMA GAK BISA NGITUNG!
Kurang lebih begitu judul provokatif di beberapa video pendek yang sempat saya tonton. Saya kurang percaya. Apa iya: penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian dasar saja, lambat?
Sampai akhirnya beberapa hari terakhir mengharuskan berinteraksi lumayan intens dengan beberapa anak SMA baru (akan) lulus di sebuah kabupaten pesisir.
Remaja dengan aktivitas biologis sedang galak-galaknya, banyak menghabiskan waktu scrolling tiktok, sekolah asal lulus, tapi bisa makan MBG sampai 5 ompreng karena sekolah mereka selalu diberikan jatah lebih. Muridnya sedikit. Bagusnya: mereka mau mengerjakan apa saja asal "bisa hidup". Mulai dagang cilok di gerobak dorong, membantu di warung, sampai jadi tulang urut panggilan.
Ternyata benar, mereka sangat lambat berhitung. Perkalian dasar setingkat SD saja lemah. Perlu bermenit-menit menghitung 8 kali tiga. DELAPAN KALI TIGA! sampai-sampai seluruh jari tangannya dikeluarkan semua, dipakai menghitung dengan cara menjumlahkan.
Saya mengurut dada. Dada sendiri. Sedih. Kecewa. Marah. Semua campur aduk. Bukan marah kepada mereka pribadi, karena biar bagaimana, mereka adalah PRODUK pendidikan. Pendidikan formal di sekolahan, di rumah, dan di lingkungan. Dan, ini saya sampaikan kepada mereka pelan-pelan dengan bahasa amat sederhana. Bahasa sederhana yang sekiranya dipahami oleh mereka yang seumur hidup belum pernah membaca satu buku pun hingga tuntas.
Bukan salah menteri dengan kebijakan asal-asalannya, karena jangan-jangan mereka pun TIDAK PAHAM atau di bawah todongan. Pun bukan salah sekolah, apalagi orang tua. Yang tidak tahu tidak bisa dikenakan delik, bukan?
Abad-21 dipenuhi piranti canggih, namun pengguna kecanggihan tersebut kalah telak oleh generasi dua ribu tahun lalu, atau abad pertengahan, jauh sebelum renaissance. Kala itu manusia usia belasan tahun sudah siap mandiri, sendiri mengarungi kehidupan.
PR terbesarnya kemudian: bagaimana 'menyembuhkan' mereka, yang semula sebagai PRODUK GAGAL sistem pendidikan, menjadi generasi tangguh, terampil, cerdas sekaligus mandiri di tengah tantangan dunia yang semakin berat?
Berat. Sangat berat.
***
Stella, ini buktinya. Tiap hari makan MBG sampai 5 ompreng pun TIDAK bikin cerdas.
Kawan Diskusi retweeted
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?
Kawan Diskusi retweeted
Sebelum beropini tentang Orang Miskin, saranku tonton dulu Film Korea "The 8 Show", atau versi Webtoonnya (Pie Game)
Disclaimer :
1. Awas ini mengandung "beberapa Spoiler", bisa tonton dulu videonya.
2. Saya akan menaruh secara terpisah di kolom komentar tentang orang miskin
Nah, sekarang kenapa saya membawa "The 8 Show", karena Film ini ngajarin bagaimana dunia memberikan kasta terhadap orang "kaya/bervillege" vs "Miskin/minim privillege"
Film ini sebenarnya menceritakan 8 orang yang diadakan sebuah permainan, permainannya sederhana, tetap hidup sampai permainan selesai dan ikuti aturannya, makanan minuman akan disajikan setiap hari mesti satu kali.
Nah, ternyata mereka itu sebelum masuk ke permainan disuruh pilih nomor, dan ternyata nomor itu menentukan kamar sekaligus nasibnya. Semakin tinggi angkanya semakin berprivillege. Tapi, tempat tinggalnya semakin di atas.
Ini poin-poin yang mau saya kasih tau :
1. Privillege itu memang nyata adanya, Orang ke-7 dan ke-8 itu memilihnya hanya sekadar keberuntungan, sedangkan Orang yang pilih nomor 1, 2, 3 itu sebenarnya sial.
2. Tapi dibalik Privillege itu, ada usaha yang perlu dilaksanakan, yakni mereka harus effort keruangannya untuk setiap hari. (naik tangga dari lantai 1 ke 8 lho itu)
3. Pada awalnya mereka saling menerima, saling bercengkrama, tetapi namanya makhluk sosial pasti aja ada keributannya.
4. Keributan itu hingga akhirnya menciptakan segregasi antara papan atas(Orang Kaya 5,6,7,8) dan papan bawah(Orang Miskin 1,2,3,4)
5. Tetapi, tentu saja diantara orang kaya sama orang miskin itu terbagi lagi menjadi 2, Orang Kaya yang peduli sama yang bawah, sama orang miskin yang rela menjilat orang kaya.
6. Ada suatu momen dimana ada voting untuk memilih orang kaya(orang 8) dan orang miskin(orang ke-3) yang mengerjakan pekerjaannya sebagai tempat toilet. Orang Kaya harus menjadi tempat toilet, awalnya dia menerima, tetapi habis itu tiba-tiba ngambek dan mengajarkan bahwa seharusnya orang bawah itu bekerja lebih keras daripada menyalahkan orang kaya.
7. Ada kejadian juga "tim orang kaya" menindas "orang miskin", ada orang kaya yang membela orang miskin antara disamakan oleh orang miskin(orang 5)atau dibungkam untuk patuh(orang 7). Sedangkan ada 1 orang miskin(orang 4) yang memiih untuk menjilat orang kaya untuk mengendalikan hierarki sosial mereka.
8. Terakhir, meski ada revolusioner dari orang miskin, tapi orang miskin ini (orang 1, 2, 3, 5) menyia-nyiakan hasil revolusi, entah menjadi orang pendendam daripada fokus cari cara untuk memanfaatkan kekayaan ataupun melepas belenggu orang kaya yang mempunyai sifat terburuk.
8 Poin diatas mempelajari bahwa manusia itu tak akan pernah puas, baik statusnya orang kaya ataupun orang miskin. Mereka pasti akan berulah yang tidak-tidak jika merasa diberikan kesempatan.
xitter.gq/direktoridosen/status/… utk kawan2 yg mau daftar CPNS/BUMN, mulai sekarang buatlah 1 akun sosmed pakai identitas asli, dengan nama dan wajah profil lengkap. Isinya normal2 saja tapi harus ada dukungan atas program prioritas presiden. Tp jgn kebanyakan jg jilat2nya, jd tdk organik. Perbanyak saja konten2 netral harian atau basa basi busuk 😂😂😂
This quoted post is unavailable.

































