Pinned Tweet
Air Hujan: Pupuk Nitrogen dari Tuhan
Kenapa Tanaman Ngacir di Awal Hujan?*
Pernah kepikiran tidak, kenapa tanaman jagung, sawi, kangkung, atau bayam di awal musim hujan bisa hijau royo-royo padahal belum dipupuk?
Ya benar! Jawabannya jatuh dari langit. Air hujan itu bukan cuma H2O. Dia bawa pupuk nitrogen gratis.
Lho, jadi hujan itu Urea subsidi penuh? Ya gak gitu juga.
Jani begidi....
#LiterasiPertanian #NPK #PertanianOrganik
Ilustrasi AI
Willie Salim dan Raffi Ahmad sampe klarifikasi artinya tekanan kontra itu sudah jauh lebih kuat saat ini terutama di kelas menengah.
Merek ngumpulin massa pendukung aja harus bayar orang saking gak ada yang sukarela datang.
Sementara yang protes secara sukarela datang berbondong-bondong serentak di berbagai daerah.
Tinggal di scale up dan solidkan.
Niat (intensi) itu fenomena tingkat makro, kognitif, dan neurobiologis, bkn variabel di dlm persamaan Schrödinger.
Persamaan Schrödinger untuk sistem kuantum (misalnya elektron atau sistem banyak partikel) berbentuk:
(di gambar)
di mana Hamiltonian berisi operator energi kinetik dan potensial yg ditentukan oleh interaksi elektromagnetik, massa partikel, dll.
Tdk ada term “niat” di situ. Simbol apa pun yg ditambahkan untuk mewakili niat akan membuat persamaan itu berhenti menjadi persamaan Schrödinger yg kita kenal dari mekanika kuantum.
Elektron memang dualitas partikel-gelombang, dan fungsi gelombang menggambarkan probabilitas amplitudo. Tapi “niat baik/buruk” bkn properti kuantum elektron individual. Niat muncul dari aktivitas saraf terkoordinasi di otak (jaringan neuron, potensial aksi, neurotransmitter) yg berada di rezim klasik/makroskopik. Skala energi, dekoherensi, dan suhu di otak membuat efek kuantum koheren ya
g relevan untuk “niat” sgt tdk mungkin bertahan.
E = mc² memang berlaku, tapi “energi niat” di sini adalah bahasa metaforis, bkn konversi massa-energi yg terukur dlm konteks relativitas khusus. Entropi naik krn proses termodinamika dan informasi di sistem terbuka, bkn krn “tdk punya niat” membuat fungsi gelombang berada di superposisi tertentu.
Intinya: fisika kuantum sdh cukup aneh dan indah tanpa perlu memasukkan niat manusia ke dlm persamaan fundamentalnya. Kalau mau menghubungkan kesadaran, niat, atau free will dgn fisika, itu ranah interpretasi, filsafat, atau neuroscience, bkn dgn cara memodifikasi persamaan Schrödinger secara langsung.
Selalu lebih baik jaga batasan antara domain. Fisika kuantum menjelaskan dunia mikroskopik dgn presisi tinggi, psikologi dan neuroscience menjelaskan niat dgn cara yg berbeda. Mencampur keduanya tanpa dasar eksperimen/permodelan yg ketat biasanya menghasilkan kesalahpahaman, bkn insight baru.
Replying to @AryaBanga777 @AryHHAry
Miliaran elektron di tubuh kita selain memiliki peran sebagai partikel dia juga sebagai GELOMBANG, tentunya elektron juga memiliki peran dalam membentuk niatan baik ataupun niatan buruk.
Jadi pada persamaan scrodinger itu jga terdapat variabel NIAT, simbolnya aja yg beda
Ronda Tani retweeted
Berikan upah yang layak ,perlakukan dengan baik pekerjamu maka dia akan bekerja dengan sungguh sungguh tanpa di perintahpun ,,,jangan pelit jangan rakus keuntunganmu sudah sangat besar 🫵🫵
Selamat pagi ,selamat berakhir pekan
Blm ada solidaritas dari pesantren2 lain yg lebih kongkrit dan massif ya?
Sepertinya menarik kalau bikin tim khusus untuk menggerebek balik kepolisian setempat.
Ronda Tani retweeted
Para santri dituduh membakar warung babi di Sukoharjo. Pesantren digerebek. Anak-anak di bawah umur ditangkap dan diperlakukan buruk. Setelah tidak terbukti terlibat, mereka dilepaskan. Apakah aparat meminta maaf?
⚠️TRAGEDI PENGGEREBEKAN PONPES HAMALATUL QURAN SUKOHARJO
Sebuah insiden traumatis menimpa para santriwati di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sukoharjo pada Rabu (29/10/2026) dini hari.
🕒 Kronologi Kejadian (Versi Ponpes):
Pukul 03.20 WIB: Belasan polisi & Brimob bersenjata lengkap mendobrak pintu asrama saat santriwati tertidur karena tidak sempat membukakan pintu.
Tanpa Hijab & Ditodong: Santriwati yang kaget dan belum sempat mengenakan hijab/cadar ditarik keluar, ditodong laras panjang, hingga mengalami intimidasi fisik & verbal (wajah dicengkram & dibentak). Bahkan, balita 3 tahun ikut terbawa dan mengalami trauma, serta anak 5 tahun sempat terpisah.
Pukul 03.51 - 17.00 WIB: Santriwati digiring ke Polsek Mojolaban lalu dipindah ke Polres Sukoharjo untuk diinterogasi tanpa didampingi wali/kuasa hukum dan tanpa surat panggilan. Mereka juga sempat kelaparan karena baru diberi makan sore hari.
Penyitaan Barang (~Rp50 Juta): Polisi menyita peralatan ekstrakurikuler (busur panah & drone), HP santri/ustadzah, uang tunai, emas, dirham, hingga 3 unit motor tanpa surat penyitaan. Aktivitas ponpes lumpuh akibat garis polisi.
🛡️Klarifikasi & Versi Pihak Kepolisian:
Penggeledahan ini merupakan tindak lanjut penyidikan kasus pembakaran warung di Grogol, Sukoharjo.
Polisi mengamankan dan memeriksa 27 orang saksi (termasuk anak di bawah umur) dari dua lokasi di Karanganyar & Sukoharjo dengan melibatkan pendampingan P2TP2A/UPTD PPA.
Setelah pemeriksaan, seluruh santri dan pihak ponpes yang diperiksa telah dipulangkan karena tidak terbukti terlibat, meskipun pihak ponpes menyayangkan prosedur penggerebekan yang dinilai tidak humanis dan mendesak pengembalian barang-barang yang disita.
(Sumber: Yayasan Dakwah & Sosial Al-Mukmin / Rilis Resmi Pesantren)
Ronda Tani retweeted
POSISI HADIST YANG ANEH
Kalo lihat comment di tweet ini gw jadi ingetvdulu sangat intens mempelajari agama Islam sejak 2017.
Banyak hal yang bisa saya cerna terkait ajaran Islam tapi adayang nggak bisa saya logikakan sampai sekarang yaitu "posisi hadist" dlm sumber hukum.. 😀
5 rukun Islam itu adanya di hadits, misalnya riwayat Bukhari dan Muslim. Sementara, hadits2 kanon itu disusun lebih 2 abad sejak Nabi wafat.
Kalau ditelaah dg kajian historiografi modern, informasi dari 2 abad itu masuknya sumber sekunder. Alias lemah. Yang primer apa? Ya sumber sezaman. Dan sumber sezaman paling sahih adalah Alquran sendiri.
Dan, Alquran memang ada perintah berhaji, layaknya perintah lain seperti membaca, solat, zakat, bersabar, bekerja, kurban, mencuci baju, hijrah, dsb.
Namun, Alquran tak menyebut "5 rukun Islam", dimana haji jadi salah satunya. Alquran juga tak menyebut "6 rukun iman".
Baik 5 rukun Islam atau 6 rukun iman, keduanya adanya di hadits.
Yang unik adalah... di rukun iman yang 6 itu, tidak ada kewajiban beriman pada hadits. Lho piye? Yo ora piye2.
Ungkapan di atas itu hanya kajian historiografi modern ya. Pasti banyak kurangnya.
Ronda Tani retweeted
Dalam hadis “al-ʿulamāʾ warathat al-anbiyāʾ” (“para ulama adalah pewaris para nabi”), mayoritas ulama (jumhur) memahami kata ʿulamāʾ sebagai orang-orang yang menguasai ilmu syar'i (ilmu syariat).
Hal ini mencakup disiplin ilmu agama: Al-Qur'an, tafsir, hadis, fikih, dan usul fikih (uṣūl al-fiqh), beserta kemampuan untuk memahami dan mengamalkannya. Landasan mereka adalah QS. Fatir [35]: 28, “Innamā yakhsyallāha min ʿibādihi al-ʿulamāʾ” (“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama”), yang oleh banyak mufasir klasik dimaknai merujuk kepada orang-orang yang memiliki ilmu agama.
Agama abrahamik memang mengenal 3 perjanjian dengan Tuhan.
Ada perjanjian lama (torah, dipakai Yahudi) lalu perjanjian baru (injil, dst.). Keduanya kini dikumpulkan dalam bibel, dipakai Kristen.
Lalu Quran yg sbaguan muslim menyebutnya sbg perjanjian terakhir, yg dibawa nabi terakhir. Ini menutup era wahyu, dan membuka era baru: era ilmu.
"Para ilmuwan adalah pewaris para nabi", begitu sabda nabi Muhammad. Maka, dg kesadaran itulah, muslim berlomba-lomba mengembangkan ilmu, hingga mampu jaid peradaban yg sangat maju pada zamannya.
Namun itu tak belangsung lama. Ilmu dicampakkan, wahyu dijadikan jimat kesaktian. Baik kesaktian semacam ilmu kebal, seperti perisai dari hukum saat korupsi. Bisa juga jadi jimat perdagangan.
Akhirnya umat Islam terjerembab dalam ketertinggalan. Tapi itu dianggap gak penting, sebab sudah meyakini bhw surga sudah dia kapling.
Ya gak papa, namanya hidup. Warna warni.
Replying to @jogstate @gagal_gantengs
Karena dia mencampur validitas agama dengan kritik sumber historiografi. "Sumber sejarah" di sini soal klasifikasi primer-sekunder: yang disusun 200 tahun kemudian otomatis sekunder dibanding sezaman (Al-Quran), meski isnad-nya kuat menurut kriteria tradisional. Domain-nya beda.
Ronda Tani retweeted
Semoga jadi tamparan buat ndalem kraton kalo warganya sudah capek dan menahan marah terlalu lama melihat kelakuan royal family.
Status priyayi itu punya tanggung jawab buat ngopeni kawula alit, jangan malah main2 gitu.
Menurut metode isnad-cum-matn Motzki, analisis gabungan sanad + matan (kumpulkan varian, cari common link, bandingkan teks) memungkinkan penanggalan lebih akurat. Berbeda dari skeptisisme Goldziher-Schacht, Motzki buktikan banyak hadis (termasuk hukum) berakar di abad 1 H, common link sering kolektor andal bukan pemalsu. Hadis 5 rukun bisa diuji sama: jika varian cukup, mungkin lebih awal dari abad 2-3. Tetap kritis, jarang buktikan teks persis dari Nabi.
Ronda Tani retweeted
Saat ini di Jogja, aparat ora kanggo.
Sepertinya mosi tidak percaya pada aparat sudah digaungkan.
Warga menerapakan hukum jalanan untuk memburu Preman. Wkwkwkwk..
Jogjaku waidih banget! 🔥🔥🔥
Ronda Tani retweeted
Minta tolong min saya yang bodoh ini di jelaskan part yang disebut kan, ini yang dibangun di indonesia atau di untuk rakyat atau untuk pejabat ?
Pendidikan masih sama saja
Infra struktur masih sisa pak Jokowi semua
Kesehatan sama saja dengan jaman president 2 sebelumnya
Ketahanan pangan ????? Tanam singkong yang berjuta 2 hektar itu maksud nya sama jagung yang ditanam nganu itu ,kita bukan burung dara min kita human makanya nasi yang diolah dari beras , terus sekarang beras mahal dan masih banyak yang tidak mampu beli itu maksud nya ketahanan pangan ?
( Yang terjadi di daerah dan masyarakat bawah ) Jadi pasti contoh nya ini untuk pejambut yak ,,,kalau iya valid 😄😄
Berapa pejambut dan oknum yang makin kaya setelah ada MBG dan kopdes 😄😄
Replying to @Gerindra
Mulai dari pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan dan energi, infrastruktur, perumahan, hilirisasi, investasi, hingga pemberdayaan ekonomi terus digerakkan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat.
Sayangnya logika sederhana itulah yang mengalami kelangkaan.
Kita itu sudah biasa kok: berpikir SUBSTANSIAL.
Kenapa dulu dibuat aturan syaray calon capres-cawapres "hanya" minimal SMA, bukan S1? Karena saat itu ada Gus Dur dan Megawati yang tidak tamat sarjana.
Dan karena kita tahu kualitas Gus Dur dan Megawati itu layak menjadi Presiden, maka dibuatlah aturan bahwa pendidikan minimal capres hanyalah SMA.
Dari sudut pandang akademis, syarat itu sebenarnya terlalu rendah untuk jabatan setinggi Presiden. Tapi, kita berpikir SUBSTANSIAL bahwa faktanya ada orang tertentu yang punya kemampuan lebih meski hajya lulus SMA.
Contoh figur publik yang cuma lulus SMA tapi bisa jadi pemimpin hebat misalnya: Dahlan Iskan. Dia pernah jadi CEO Jawa Pos dan menjadi Jawa Pos dari koran kecil menjadi media raksasa.
Saat ini kita menghadapi masalah SUBSTANSIAL yang lain. Ada orang nggak punya ijazah SMA tapi lulus S1 secara sah. Jalur kuliah di luar negeri memungkinkan itu.
Maka, secara SUBSTANSI, orang itu sudah memenuhi syarat sebagai capres-cawapres.
Tentu tinggal ditanyakan ke lembaga pendidikan tinggi yang mengeluarkan ijazah S1 itu, apakah ada prosedur yang melanggar saat dia masuk dan kuliah di tempat itu.
Contoh figur publik yang tidak punya iuazah SMA tapi lulus S1 adalah: Azrul Ananda, putra dari Dahlan Iskan. Azrul hanya sekolah sampai kelas 10 di Amerika lalu langsung ambil Junior College 2 tahun, disambung kuliah di universitas normal selama 2 tahun, dia sudah dapat gelar S1. Semua di Amerika Serikat.
Apakah kita akan menolak orang seperti Azrul Ananda sebagai pemimpin bangsa ini hanya karena dia tak punya ijazah SMA? Tentu tidak. Meski dia tidak punya ijazah SMA (sederajat), dia bukan lukusan SMP. Karena kita tahu, dia sudah lulus S1. Dan itu gelar yang sah.
Sekali lagi, secara SUBSTANSI, dia sudah memenuhi syarat dari aturan yang kita buat.
Jika Anda bersikukuh bahwa ijazah SMA adalah keharusan dan menafikan ijazah di atasnya, bagi saya jelas: Anda tidak paham SUBSTANSI.
Janganlah kebencian Anda ke seseorang membuat Anda berpikir tidak logis.
Saya tidak sedang membela Gibran. Saya sedang memperjuangkan logika sederhana tentang babyaknya anak bangsa yang tak punya lembar ijazah SMA tapi punya ijazah S1.
Coba tanya ke perusahaan yang sangat profesional, jika mereka mensyaratkan calon karyawannya minimal SMA tapi dia malah menyodorkan ijazah S1, apakah itu akan jadi masalah?
Tentu logika sederhana itulah yang akan dipakai.
Ya. Manusia, otak, dan masyarakat *adalah* bagian alam semesta. Tdk ada pengecualian.
Moralitas muncul krn sistem kompleks (otak/masyarakat) memproses informasi jauh dari kesetimbangan termodinamika. Ia membangun struktur lokal sambil mengekspor entropi. Itu produk alam semesta, bkn niatnya.
Alam semesta tetap netral. Hukum termodinamika dan unitari tdk mengenal dosa atau niat baik. Yg kita sebut “dosa” hanyalah tindakan yg merusak invariant struktural atau menambah entropi tersembunyi. Informasinya tdk hilang, hanya ter-decohere.
Kita yg memilih apakah struktur yg dihasilkan mengurangi atau menambah kekacauan lokal. Krn kita sendiri adalah bagian dari proses itu.
Replying to @SohibCamp4 @AryHHAry
Bagaimana jika manusia, otak manusia, dan masyarakat juga merupakan bagian dari alam semesta. Jika atom-atom di dalam otak manusia memproses informasi dan menghasilkan konsep moralitas, maka moralitas secara tidak langsung adalah produk dari alam semesta
Ronda Tani retweeted
Para pejabat jahat banget ke wanita. Pembalut dipajakin, ibu menyusui tidak dapat insentif, janda cerai nggak dapat hak, janda tua dibiarkan meninggal, wanita muda miskin digoda duit buat jadi simpanan. Laknat emang.
Ronda Tani retweeted
Ngomong-ngomong tentang pajak terhadap pembalut, sudah waktunya kita meniru Pakistan dengan gerakan Period Tax.
----
Period Tax: Pakistan Bergerak Maju Lewat Penghapusan Pajak Pembalut, Indonesia Malah Mundur bincangperempuan.com/period-…
Ronda Tani retweeted
Buat yang belom tahu nyaris semua pesantren tradisional yang jumlahnya jauh lebih banyak di indonesia santrinya diajarin kitab porno fatul izhar, penulisnya ngaku dapat ilham setelah ga keluar dari rumah selama 3 tahun.
Itu buku isinya pure misoginisme, antara lain ngajarin kalo perempuan punya bibir tebal pasti bibir vaginanya juga tebal, kalo hidungnya mancung pasti ga ada gairah seksual, kalo dagunya lancip pasti bulu kemaluannya tipis dll banyak banget ppkoknya isinya menseksualisasi tubuh perempuan.
Makanya laki-laki lulusan pondok pesantren di indonesia kebanyakan misoginis otak cabul, sampe detik ini masih dibiarkan anak-anak diajarin misoginisme di pesantren secara terang-terangan.
MUI ngapain? kalian muslim pada ngapain ga bertindak menghentikan ini?
Sumpah kalian ngapain? Ga bisa melindungi anak-anak kalian? Sibuk nindas lgbt dan umat lain sampe anak-anak dicekokin misoginisme lu biarin aja gitu?
Einstein sendiri yg blg, setelah 50 tahun merenung, dia tetap tdk lebih dekat ke jawaban “Apa itu quanta?”.
Orang sekarang sering merasa sdh tahu, padahal belum. Mike McCulloch mendorong lebih jauh: photon menolak masuk dgn rapi ke dlm fisika, massa diamnya = 0 tdk bisa dibuktikan langsung (hanya diinfer dari Lorentz factor), dan menurutnya photon adalah artifact dari cosmic processing, mirip latency.
Dari sisi informasi dan proses, ini menarik. Kalau kita berhenti mencari “zat” atau object, dan mulai melihat photon sbg transaksi informasi / phase alignment yg di-render di ruang-waktu, maka dualitas gelombang-partikel bkn lagi dualitas zat, melainkan dualitas cara proses itu tampak.
Di Quantised Inertia, massa sendiri bmn properti inherent, melainkan interaksi quanta dgn horizon. Latency atau processing delay bisa menjelaskan knp c tetap jadi batas, tanpa harus memaksakan spacetime yg “melengkung secara magis”.
Pertanyaannya, apakah ini masih terlalu spekulatif, atau justru membuka cara baru untuk dekonsteuksi apa yg selama ini kita anggap fundamental?
Kalau photon lebih dekat ke proses drpd partikel, apa implikasinya untuk informasi kuantum, entanglement, atau bahkan cara kita membangun sistem yg resilient?
Sumber sekunder bukan berarti isinya salah.
Ada cabang ilmu namanya Mustholah Hadits, yang spesifik membedah masalah ini.
Justru, metode periwayatan hadits dan kodifikasi hadits yang dilakukan ahli-ahli hadits seperti Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, sangat advanced pada zamannya.

































