Pinned Tweet
Sedikit teknisnya akan saya jabarkan.
1. Gimana cara ngejar 3K foll verifed?
Cari di list follower akun orang. Ada di profil mereka. Follow yang cenblu. Sebanyak mungkin.
Kenapa setiap hari harus follow cenblu?
Karena setiap hari ada cenblu yang tidak lanjut langganan. Jika kita berhenti follow, list follower cenblu kita akan terus berkurang.
2. Post setiap 30mnt itu post apaan?
Jenis postingan di semua platform somed itu cuma ada 2: Pengetahuan dan Hiburan.
2 jenis post tersebut mengandung value masing-masing.
Buatlah postingan yang menambah wawasan orang atau yang menghibur orang. Itu doang. Berlaku di platform apa pun. Bahkan YT dan TT sekalipun.
3. Kenapa harus banyak post ketimbang reply?
Karena pada dasarnya semua platform termasuk X menyuruh kita menjadi Creator. Creator artinya seorang pembuat. Membuat apa? Ya membuat konten.
X ingin kita ngonten bukan hanya scrolling. Jadi banyakin post!
Oke, sesuai janji.
Alhamdulillah
Sudah lolos OCR (kukira lama prosesnya ternyata cuma beberapa jam).
Menurut saya, ada 2 KUNCI yang harus cenblu fokus kejar jika mau lolos 500k verif impresi.
1. Kejar minimal 3K follower cenblu
2. Posting setiap 30 menit
Udah itu doang. Fokus itu aja dulu.
Jika ada pertanyaan soal gimana teknisnya dll. boleh komen.
Soalnya panjang jelasin masing-masing teknisnya.
IHSG rebound tapi bukan ditopang dana asing.
Melainkan intervensi Pemerintah melalui Danantara dan para Naga.
Biar apa?
Biar pemerintah bisa bilang, "Tuh kan, kami berhasil memulihkan IHSG."
Padahal aslinya, upaya pemulihan IHSG dilakukan dengan cara MANIPULASI dan KOORDINASI kelompok.
Bukan pulih karena pulihnya kepercayaan pasar sebagai respon atas transparansi yang diperbaiki.
Kuat sampai berapa lama?
Uang Danantara terbatas, gak bisa terus menerus ngangkat saham.
Eh tapi kalau rugi kan gak disebut merugikan negara ya kemarin. Makanya tenang-tenang aja mereka.
Dolar hari ini vs. September 2024, naik 3ribu alias 20% dalam 2 tahun.
Bentar lagi lewati rekor Rp18.200 pada 8 Juni 2026 kemarin.
TENANG
MAU RP20.000 PUN TETAP SAJA
“ORANG DESA GAK PAKAI DOLAR!”
Baru OCR bulan ini, alhamdulillah 3 digit.
Teori saya masih terpakai dan terbukti works
1. Post minimal 20/hari
2. Kejar follower minimal 3k cenblu
Kalau 2 itu sudah tercapai, payoutmu aman tiap 2 pekan.
Teknisnya cek pinned post saya di profil.
Kenapa Prabowo merasa semua baik-baik saja?
Di suatu podcast, Purbaya bilang gini:
Banyak yang lapor sama presiden, bagus pak bagus pak. Saya pernah dipanggil. Saya bilang, gak bagus pak. Jelek pak. Ini ini gini…
Dia gak suka sama saya. Si Purbaya kalau datang ke sini bawaannya jelek terus.
Jadi, kalau Anda mau denger yang bagus-bagus, panggil orang lain. Kalau Anda mau denger yang bener-bener terjadi, panggil saya.
New York Times dan The Economist udah publish artikel soal situasi negara kita tercinta.
Yang disorot hampir sama, tinggal tunggu waktu semuanya meletus.
NY Times menekankan soal karhutla sementara Economist tentang prospek Indonesia pasca kejatuhan IHSG sampai 40%.
Seperti awal 1996, akhirnya golongan menengah yang akan terdesak.
Rupiah jatuh, biaya hidup makin tinggi, pengangguran (sampai 17%).
META AI KETIKA DITANYA KENAPA HUTAN BANYAK YANG TERBAKAR
Wajar sih Meta Ai di-take down.
Terlalu CEPU ini Ai.
Apa yang ada di benak kalian saat melihat foto ini?
Tuliskan dalam satu paragraf dengan diksi yang sopan, santun, beradab, dan formal.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Kerja keras yang selalu disinggung oleh orang kaya sebenarnya adalah lebih kepada “kerja lebih.”
Kalau sudah punya 1 pekerjaan, harus tambah lagi. Kalau sudah punya 1 sumber penghasilan, harus tambah lagi.
Masalahnya, waktu adalah uang.
Orang miskin tidak punya uang, akhirnya ia mesti membayar waktu ya dengan waktu sehingga waktu seharinya benar-benar habis.
Orang kaya punya uang, ia dapat membeli waktu dengan uang yang dimiliki.
Efisiensi waktu inilah yang membuatnya lebih cepat dalam mengumpulkan pendapatan lebih.
Bagi orang miskin, itu sulit karena waktunya sudah habis untuk antre KRL, antre pertalite, antre BPJS, nyuci baju manual, nyuci piring, masak sendiri gak ada ART.
Bagi orang kaya, 24jam itu waktu yang panjang.
Bagi orang miskin, 24jam itu sangat singkat.
Data IndexBox mencatat 72-88% impor palm oil Israel berasal dari Indonesia.
Ekspor ke Israel sekitar 30.000 ton di 2025, dari total ekspor sawit Indonesia 32,3 juta ton.
Data CEIC dan World Bank mencatat ekspor sawit Indonesia ke Israel sudah ada minimal sejak 2012 (nilainya tercatat rutin sejak Jan 2012), dan di 2018, 2023, 2024 tetap ada.
Indonesia merupakan eksportir sawit terbesar dunia ke 117 negara.
Karena sarjana merupakan minoritas di Indonesia maka calon yang educated tidak akan menarik.
Calon yang populer, ada di mana-mana, “savage” secara gaya, memakai bahasa sederhana dan awam lebih mudah diterima.
Anak SMK lebih suka nongkrong sama anak SMK, akademisi nongkrongnya sama akademisi.
Anak yang duduk di belakang suka nongkrong sama anak yang duduk di belakang.
Saat pemilihan ketua OSIS pun mereka akan memilih dari kelompok mereka bukan yang juara 1, bukan yang duduknya selalu di belakang, pelit saat diconteki, bahasanya teoritis saat sesi debat.
Ketua OSIS idaman mereka ya yang paham dan ada di level mereka sehingga mereka berharap ketua OSIS yang terpilih dapat menampung aspirasi mereka.
Selama sarjana belum jadi mayoritas di Indonesia, selama itu pula pemimpin kita begitu-begitu saja. Bukan yang terbaik dan yang ahli.
New York Times dan The Economist udah publish artikel soal situasi negara kita tercinta.
Yang disorot hampir sama, tinggal tunggu waktu semuanya meletus.
NY Times menekankan soal karhutla sementara Economist tentang prospek Indonesia pasca kejatuhan IHSG sampai 40%.
Seperti awal 1996, akhirnya golongan menengah yang akan terdesak.
Rupiah jatuh, biaya hidup makin tinggi, pengangguran (sampai 17%).
Perhatian Dunia Internasional Eropa Terkait Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia Benar-Benar Serius‼️
Uni Eropa baru saja menerapkan EU Deforestation Regulation (EUDR):
Komoditas (kelapa sawit) tidak boleh berkontribusi terhadap Deforestasi dan Degradasi Hutan Global.
Jika produk berasal dari lahan yang dianggap merusak hutan, DILARANG TOTAL masuk ke Eropa!
Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Uni Eropa mencatat emisi kebakaran Indonesia jadi peringkat No.1 tertinggi dunia.

















