Hari ini aku pergi ke pasar sendiri. Kakakku bilang aku harus diam di kamar atau main dengan tetangga kos, tapi aku sudah tahu kalau ia akan pergi bekerja lagi sebagai lonte, dan aku tidak mau hanya duduk saja. Aku berusia empat tahun, tapi aku bisa berpikir dengan jernih dan menuliskan apa yang ada di kepalaku ke buku ini, karena otakku bekerja lebih cepat daripada mulutku kadang-kadang. Di pasar tradisional ini, aku melihat banyak sekali orang. Ada yang menjual gorengan yang berbunyi renyah ketika digigit, ada kue basah yang warnanya menarik, ada ikan basah dari laut yang baunya kuat, dan ada juga sayuran yang masih basah oleh embun pagi. Orang-orang berteriak memanggil pembeli, menawar harga, dan saling membutuhkan satu sama lain agar bisa makan hari ini. Aku berdiri di tengah keramaian itu dan memperhatikan semuanya dengan saksama. Aku ingin tahu mengapa mereka semua datang ke sini setiap hari, bagaimana uang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dan mengapa pasar ini terasa seperti jantung yang berdetak di kota pesisir ini. Kakakku mungkin tidak peduli di mana aku, tapi aku peduli dengan apa yang kulihat. Aku akan menuliskan semua ini lagi nanti, supaya aku tidak lupa.
🪬 retweeted
Dari tdi nangisin bapak ojol yg kelindes mobil dajal ini.. Dari ketabrak kenapa tu mobil gak ngerem sih???? Emang gk bisa ya direm.. Sampe si Bpk jatuh tersungkur dan kelindes roda depan ke guling kelindes lgi roda belakang😭..
Gimana ya kbr si Bpk ojol ini..
Brg kali siapa yg mau open donasi buat Bpk ojol aku ikut dong walaupun cuman dikit..
Terimakasih buat ibu2 mobil honda putih ini, yg rela bagian blkg mobil rusak krna buat nahan agar si bye dahal ini berenti..
Aku berjalan lebih pelan di antara lapak-lapak yang sepi ini, kakiku kecil menapak di lantai yang berdebu tanpa banyak kaki lain yang menggeseknya, dan pertanyaan-pertanyaan mulai berkelindan di kepalaku seperti benang-benang yang kusut. Mengapa pasar ini terasa lebih sunyi hari ini? Apakah ekonomi memang semakin suram, sehingga orang-orang tidak lagi punya uang untuk membeli gorengan yang baunya masih menguar tipis dari wajan yang hampir dingin, atau ikan yang tersusun rapi tapi tidak banyak disentuh? Aku melihat wajah penjual yang tetap menatap ke arah jalan, matanya penuh harapan yang sudah menipis, seolah mereka masih percaya ada orang yang akan datang, meski antrian tidak pernah terbentuk dan uang di kotak mereka hanya bergeser sedikit. Apakah karena raja yang sudah mulai tidak bijaksana, yang keputusan-keputusannya entah bagaimana membuat uang semakin sulit didapat, sehingga daya beli warga merosot dan pasar ini kehilangan denyutnya? Ataukah pasar itu sendiri yang tidak lagi menarik bagi warga, karena mereka lebih memilih diam di rumah atau mencari cara lain untuk bertahan, meninggalkan tempat ini yang dulu ramai dengan suara tawar-menawar? Sinar matahari yang menembus terpal yang sobek terasa lebih tajam di atas nampan yang setengah kosong, baunya campuran garam laut dan bumbu yang tidak banyak terpakai, dan aku memperhatikan bagaimana penjual sayur sesekali mengusap daun yang mulai layu, seolah dengan sentuhan itu ia bisa menahan waktu agar dagangannya tetap terlihat segar. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikiranku yang jernih ini, tanpa jawaban yang pasti, karena aku hanya anak kecil yang mengamati segala sesuatu dengan detail, dari debu yang beterbangan pelan hingga napas penjual yang terdengar lebih berat, mencoba memahami mengapa harapan mereka tetap ada meski kesulitan sudah menghimpit begitu erat di kota pesisir yang anginnya membawa lebih banyak keheningan daripada pembeli.
Aku terus menyusuri lorong-lorong pasar yang biasanya penuh sesak ini, langkah kakiku kecil terdengar lebih jelas di lantai beton yang retak karena hari ini suasananya jauh lebih sepi daripada biasanya, seolah-olah banyak orang memilih diam di rumah karena uang mereka tidak cukup untuk membeli apa-apa. Di lapak pertama yang kulewati, penjual gorengan duduk di bangku kayu yang goyang, tangannya mengaduk-aduk minyak yang sudah menghitam di wajan besar, baunya seperti campuran bawang yang hangus dan tepung yang basah, tapi hanya ada tiga potong tempe yang tersisa di nampan, tidak ada antrian, dan wajahnya yang berkeringat menatap ke arah jalan dengan mata yang masih berharap ada orang yang berhenti, meski bibirnya tertutup rapat seolah menahan kata-kata yang tidak ingin diucapkan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah terpal plastik yang sobek di atas kepala, membentuk garis-garis terang yang jatuh di atas tumpukan ikan asin yang baunya menyengat garam dan laut, penjualnya yang lebih tua hanya sesekali mengusap muka dengan kain, matanya mengikuti setiap orang yang lewat tanpa berteriak seperti biasa, seolah daya beli yang rendah membuat suaranya ikut mengecil. Aku memperhatikan setiap detail itu, dari tetesan minyak yang menetes pelan dari keranjang kerupuk yang tidak banyak berkurang, hingga debu yang terbang ketika angin pantai membawa aroma bumbu kering dari lapak sebelah, di mana penjual rempah-rempah duduk bersandar, jarinya menghitung uang receh yang sedikit sekali di kotak kayu, wajahnya penuh garis lelah tapi tetap mengangguk pelan setiap kali ada yang menanyakan harga, seolah harapan itu belum sepenuhnya mati meski kesulitan sudah menghimpit begitu lama. Denyut nadi pasar terasa lambat hari ini, bukan seperti detak yang cepat dan ramai yang biasa kudengar, melainkan seperti napas yang tertahan, di antara suara gesekan sapu yang membersihkan lantai kosong dan bisikan penjual yang saling bertanya apakah hari ini akan ada pembeli lagi. Aku berhenti sejenak di depan lapak sayur, melihat daun bayam yang layu di ujungnya karena tidak cepat laku, baunya seperti tanah basah yang baru digali, dan penjualnya, seorang ibu yang matanya berkaca-kaca karena asap atau karena sesuatu yang lain, tetap mengatur ulang dagangannya dengan tangan yang gemetar sedikit, seolah dengan merapikan itu ia bisa membuat hari ini berbeda. Aku mencatat semuanya dalam kepalaku, setiap bau, setiap cahaya yang jatuh, setiap wajah yang tetap menatap ke depan meski pasar ini sepi, karena aku ingin mengingat bagaimana mereka semua tetap mencoba, tetap berharap, di tengah kota pesisir yang anginnya membawa lebih banyak garam daripada uang.
Hari ini aku pergi ke pasar sendiri. Kakakku bilang aku harus diam di kamar atau main dengan tetangga kos, tapi aku sudah tahu kalau ia akan pergi bekerja lagi sebagai lonte, dan aku tidak mau hanya duduk saja. Aku berusia empat tahun, tapi aku bisa berpikir dengan jernih dan menuliskan apa yang ada di kepalaku ke buku ini, karena otakku bekerja lebih cepat daripada mulutku kadang-kadang. Di pasar tradisional ini, aku melihat banyak sekali orang. Ada yang menjual gorengan yang berbunyi renyah ketika digigit, ada kue basah yang warnanya menarik, ada ikan basah dari laut yang baunya kuat, dan ada juga sayuran yang masih basah oleh embun pagi. Orang-orang berteriak memanggil pembeli, menawar harga, dan saling membutuhkan satu sama lain agar bisa makan hari ini. Aku berdiri di tengah keramaian itu dan memperhatikan semuanya dengan saksama. Aku ingin tahu mengapa mereka semua datang ke sini setiap hari, bagaimana uang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dan mengapa pasar ini terasa seperti jantung yang berdetak di kota pesisir ini. Kakakku mungkin tidak peduli di mana aku, tapi aku peduli dengan apa yang kulihat. Aku akan menuliskan semua ini lagi nanti, supaya aku tidak lupa.
Tiba-tiba pintu kayu itu terbuka kasar dan tengkulak masuk dengan langkah yang jumawa, tubuhnya besar memenuhi bilik sempit, wajahnya beringas dengan mata yang menyapu sekeliling seolah mencari sesuatu yang bisa diambil lagi, nafasnya yang bau rokok dan minuman menyengat hingga aku mundur setengah langkah tanpa sadar. Ia meletakkan keranjang ikan yang tidak begitu segar di lantai, sisiknya sudah kusam dan baunya mulai asam, lalu langsung menagih utang dengan suara keras, jarinya menuding ke arah penjual ikan yang hanya menunduk, sementara tangannya yang kasar mengeruk isi laci kecil dan mengambil sisa uang receh tanpa izin, seolah rumah ini sudah menjadi miliknya. Aku berdiri di pojok, jantungku berdebar, melihat bagaimana kaki-kaki anak penjual ikan yang kurus kering bergerak pelan di balik pintu, mata mereka cekung dan tubuh mereka seperti batang kayu yang kering, dan aku teringat kata penjual tadi bahwa sekolah mereka tidak pandai, bahwa guru-guru jarang datang dan buku-buku mereka sobek karena tidak ada uang untuk yang baru. Kecemasan merayap di dalam dadaku yang kecil, bukan hanya untuk penjual ikan yang batuknya semakin keras saat menahan tangisan, tapi juga untuk semua orang yang kulihat di pasar tadi, untuk nelayan yang terlilit, untuk ibu-ibu yang daun sayurannya layu, untuk anak-anak yang tubuhnya tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Di kepalaku pertanyaan-pertanyaan kembali berputar seperti demam yang tidak turun: apakah utang ini akan terus mengikat mereka sampai tidak ada lagi yang tersisa, apakah tengkulak ini hanyalah satu mata rantai dari sesuatu yang lebih besar yang sudah lama merusak kehidupan di kota pesisir ini, dan apakah aku, yang hanya anak kecil dengan pikiran yang jernih, bisa melakukan apa-apa selain menyaksikan bagaimana penderitaan itu berpindah dari satu wajah ke wajah lain tanpa pernah berhenti? Aku hanya diam, merasakan bau ikan yang tidak segar bercampur dengan keringat dan keputusasaan, sementara aki di samping lemari pendingin berbunyi semakin lemah, seolah semua yang hidup di rumah ini sedang kehabisan napas.
Aku ikut membantu merapikan lapak itu sampai matahari condong dan pembeli terakhir tak datang, tanganku kecil mengangkat keranjang kosong dan menyapu sisik yang berserakan di lantai beton yang basah, sementara penjual ikan itu sesekali terbatuk pelan dan tersenyum tipis seolah kehadiranku cukup untuk menahan berat hari yang semakin panjang. Ketika kedai ditutup, ia mengajakku pulang ke rumahnya yang tidak jauh, sebuah bilik kayu di belakang pasar yang baunya campuran garam dan obat gosok, dan di sana aku melihat lemari pendingin yang berbunyi pelan dengan aki tua yang sudah berkarat di sampingnya, karena listrik rumah itu sudah lama tidak terbayar. Diam-diam, saat ia berpaling sebentar untuk menyalakan lampu minyak, aku membuka plastik yang kubawa dan mengembalikan kembali ikan-ikan kecil itu ke dalam lemari, menyusunnya di antara tumpukan yang lain seolah mereka tidak pernah keluar, hati kecilku berdenyut karena iba yang tidak bisa kucerna sepenuhnya: apakah ini menolong atau justru membuatnya merasa lebih rendah? Lalu kami duduk di lantai, dan ia bercerita dengan suara yang serak, bahwa ikan-ikan itu tidak dibeli langsung dari nelayan, melainkan dari tengkulak yang datang setiap subuh dengan bak truk yang penuh es, karena para nelayan sudah terlilit utang yang semakin besar, jaring mereka digadaikan, perahu mereka terancam disita, sehingga hasil tangkapan mereka lebih dulu mengalir ke tangan orang lain sebelum sempat sampai ke pasar. Aku mendengarkan sambil memandang aki yang berdenyut lemah itu, merasakan bagaimana utang itu merambat seperti garam yang meresap ke setiap sendi kehidupan di kota pesisir ini, dan di dalam kepalaku yang jernih pertanyaan-pertanyaan kembali berkelindan: apakah semua yang kulihat di pasar hari ini hanyalah sisa-sisa dari sesuatu yang sudah lama rusak di laut, dan apakah penderitaan yang diucapkan dengan senyum ini akan pernah berakhir, atau justru terus berpindah dari satu tangan ke tangan lain tanpa ada yang mampu memotong rantai itu?
Aku mendekati lapak ikan yang juga menumpuk sedikit sayuran layu di sisinya, uang receh di sakuku terasa dingin dan berat seperti batu kecil, dan aku mengulurkan tangan untuk membeli seikat bayam yang daunnya sudah mulai menguning di ujung, namun penjual itu menyambutku dengan senyum yang terlalu riang untuk pasar yang sepi begini, suaranya naik seolah-olah aku adalah pembeli pertama yang datang sejak subuh. “Ambil saja, nak,” katanya, lalu menambahkan dua ekor ikan kecil yang masih berkilat sisiknya ke dalam plastik, bonus yang membuat tangannya gemetar sedikit saat menyerahkannya. Aku memperhatikan wajahnya yang kurus, mata yang berkantung gelap, dan bau garam serta darah ikan yang menempel di celemeknya, sementara di dalam kepalaku pertanyaan-pertanyaan mulai berputar seperti demam: mengapa ia begitu gembira padahal dagangannya hampir tidak berkurang? Apakah senyum itu adalah cara untuk menahan sakit yang sudah lama menempel di tubuhnya? Ia mulai bercerita, suaranya merendah, tentang batuk yang tidak kunjung sembuh, tentang obat yang harganya naik terus hingga uang hasil jual ikan habis hanya untuk satu botol, tentang anak-anaknya yang masih harus sekolah dan buku-buku yang harus dibeli meski perut mereka sering kosong. Aku mendengarkan sambil memegang plastik yang basah dan dingin itu, merasakan bagaimana penderitaan itu merembes ke setiap kata yang ia ucapkan, seolah-olah hidupnya adalah luka yang terus terbuka dan tidak ada yang datang untuk menjahitnya. Apakah semua orang di pasar ini menyimpan cerita yang sama, tubuh yang sakit dan biaya yang tidak pernah cukup? Aku ingin bertanya lebih banyak, ingin memahami mengapa harapan masih tersisa di matanya meski segala sesuatu terasa semakin berat, namun yang keluar hanya diamku, dan aku hanya berdiri di sana, mengamati sinar yang jatuh di atas sisik ikan dan wajahnya yang tetap tersenyum tipis, seolah penderitaan itu sudah menjadi napas yang biasa ia tarik setiap hari di kota pesisir ini.
Aku berjalan lebih pelan di antara lapak-lapak yang sepi ini, kakiku kecil menapak di lantai yang berdebu tanpa banyak kaki lain yang menggeseknya, dan pertanyaan-pertanyaan mulai berkelindan di kepalaku seperti benang-benang yang kusut. Mengapa pasar ini terasa lebih sunyi hari ini? Apakah ekonomi memang semakin suram, sehingga orang-orang tidak lagi punya uang untuk membeli gorengan yang baunya masih menguar tipis dari wajan yang hampir dingin, atau ikan yang tersusun rapi tapi tidak banyak disentuh? Aku melihat wajah penjual yang tetap menatap ke arah jalan, matanya penuh harapan yang sudah menipis, seolah mereka masih percaya ada orang yang akan datang, meski antrian tidak pernah terbentuk dan uang di kotak mereka hanya bergeser sedikit. Apakah karena raja yang sudah mulai tidak bijaksana, yang keputusan-keputusannya entah bagaimana membuat uang semakin sulit didapat, sehingga daya beli warga merosot dan pasar ini kehilangan denyutnya? Ataukah pasar itu sendiri yang tidak lagi menarik bagi warga, karena mereka lebih memilih diam di rumah atau mencari cara lain untuk bertahan, meninggalkan tempat ini yang dulu ramai dengan suara tawar-menawar? Sinar matahari yang menembus terpal yang sobek terasa lebih tajam di atas nampan yang setengah kosong, baunya campuran garam laut dan bumbu yang tidak banyak terpakai, dan aku memperhatikan bagaimana penjual sayur sesekali mengusap daun yang mulai layu, seolah dengan sentuhan itu ia bisa menahan waktu agar dagangannya tetap terlihat segar. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikiranku yang jernih ini, tanpa jawaban yang pasti, karena aku hanya anak kecil yang mengamati segala sesuatu dengan detail, dari debu yang beterbangan pelan hingga napas penjual yang terdengar lebih berat, mencoba memahami mengapa harapan mereka tetap ada meski kesulitan sudah menghimpit begitu erat di kota pesisir yang anginnya membawa lebih banyak keheningan daripada pembeli.
Aku terus menyusuri lorong-lorong pasar yang biasanya penuh sesak ini, langkah kakiku kecil terdengar lebih jelas di lantai beton yang retak karena hari ini suasananya jauh lebih sepi daripada biasanya, seolah-olah banyak orang memilih diam di rumah karena uang mereka tidak cukup untuk membeli apa-apa. Di lapak pertama yang kulewati, penjual gorengan duduk di bangku kayu yang goyang, tangannya mengaduk-aduk minyak yang sudah menghitam di wajan besar, baunya seperti campuran bawang yang hangus dan tepung yang basah, tapi hanya ada tiga potong tempe yang tersisa di nampan, tidak ada antrian, dan wajahnya yang berkeringat menatap ke arah jalan dengan mata yang masih berharap ada orang yang berhenti, meski bibirnya tertutup rapat seolah menahan kata-kata yang tidak ingin diucapkan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah terpal plastik yang sobek di atas kepala, membentuk garis-garis terang yang jatuh di atas tumpukan ikan asin yang baunya menyengat garam dan laut, penjualnya yang lebih tua hanya sesekali mengusap muka dengan kain, matanya mengikuti setiap orang yang lewat tanpa berteriak seperti biasa, seolah daya beli yang rendah membuat suaranya ikut mengecil. Aku memperhatikan setiap detail itu, dari tetesan minyak yang menetes pelan dari keranjang kerupuk yang tidak banyak berkurang, hingga debu yang terbang ketika angin pantai membawa aroma bumbu kering dari lapak sebelah, di mana penjual rempah-rempah duduk bersandar, jarinya menghitung uang receh yang sedikit sekali di kotak kayu, wajahnya penuh garis lelah tapi tetap mengangguk pelan setiap kali ada yang menanyakan harga, seolah harapan itu belum sepenuhnya mati meski kesulitan sudah menghimpit begitu lama. Denyut nadi pasar terasa lambat hari ini, bukan seperti detak yang cepat dan ramai yang biasa kudengar, melainkan seperti napas yang tertahan, di antara suara gesekan sapu yang membersihkan lantai kosong dan bisikan penjual yang saling bertanya apakah hari ini akan ada pembeli lagi. Aku berhenti sejenak di depan lapak sayur, melihat daun bayam yang layu di ujungnya karena tidak cepat laku, baunya seperti tanah basah yang baru digali, dan penjualnya, seorang ibu yang matanya berkaca-kaca karena asap atau karena sesuatu yang lain, tetap mengatur ulang dagangannya dengan tangan yang gemetar sedikit, seolah dengan merapikan itu ia bisa membuat hari ini berbeda. Aku mencatat semuanya dalam kepalaku, setiap bau, setiap cahaya yang jatuh, setiap wajah yang tetap menatap ke depan meski pasar ini sepi, karena aku ingin mengingat bagaimana mereka semua tetap mencoba, tetap berharap, di tengah kota pesisir yang anginnya membawa lebih banyak garam daripada uang.









