Menurutku, indikator kefasihan Mandarin juga bisa diliat dari penggunaan tipe frasa:
"有沒有“;“可不可以“;“去不去“ etc. dibanding pemula kayak aku yang masih suka pakai "有嗎?“ “可以嗎?“. Kalau diindokan mungkin kayak "apakah ada" vs "ada gak"
Menurutku ini fenomena gak jauh beda sama Pidgin English atau Singlish, di mana suatu bahasa "dikorupsi" demi kepraktisan penggunaan. Sebagai 大學生,aku gak mau ngehujat sih karena aku pas ngomong Mandarin juga ceke nake
TakingFarAway retweeted
I don't know why a lot of people are surprised that many Chinese Indonesians still speak their own variants of Chinese at home. Maybe it's a rare thing in Java, but in places like Bangka, Medan, Singkawang, Pontianak, etc., they still speak & teach their children to speak their languages. You can watch videos on the Internet if you don't believe me
Problem is, when they go to places like Malaysia, Singapore or to PRC, some Mandarin speakers accuse them of being "disconnected" from their roots because they don't speak Mandarin (i.e. the Putonghua). This is what I was criticizing; Their ancestors who came to Indonesia did not speak Mandarin in the 1st place; They did not come from Mandarin-speaking regions, so it makes no sense to say that they're "disconnected from their roots" because they do not speak Mandarin?
Actually the majority of Chinese people who came to Indonesia didn't even come from Mandarin speaking regions in the north; They instead come from the southern regions like Fujian & Guangdong & the likes BEFORE the Republic of China was even formed, so EVEN when their descendants do not speak Mandarin, they're not actually "forgetting their roots" like some people claimed
Their ancestors most likely spoke other branches of the Chinese language like Hokkian, Hakka, Teochew etc. A lot of Indonesian Chinese still speak those languages at home these days
幹嘛,你腦子是不是被驢踢了,傻逼?
IHSG Anjlok, Kapolri Akan Usut Dugaan Pelanggaran Pasar Modal
Klik untuk baca: nasional.kompas.com/read/202…
~PD [2026101615210251]
Lan pah lan hut tua cek liap, emang kami bise ape, regulator jak bukan
rocky minta publik ikut dalam mengatasi karhutla
dia bilang publik sekrang cuma bisa mengoceh oceh di sosmed doang
padahal mengoceh tidak menyelesaikan masalah
dia sendiri melihat prabowo sudah melakukan yang terbaik untuk karhutla
mulai dari penambahan polisi hutan dll
dia juga minta negara negara yang kena juga ikut membantu
ini adlah masalah bersama bukan cuma indonesia doang
Walau aku dah jauh dari Indonesia, tapi pas dengar kabar dari Indonesia kayak tetap bikin stres njir. Gak kebayang kalau masih stay kayaknya bisa 10x lipat bisa mati. Kayaknya solusinya lepas paspor ijo lite ke paspor ijo premium deh. Kalau tau gini aku dari awal ke TW jir
TakingFarAway retweeted
Pemerintah bingung karena MSCI gak bisa diteror, diculik, digebukin, atau disiram air keras.
TakingFarAway retweeted
1. Semoga bangsa ini sadar telah membabat habis hutan, yang mengakibatkan 30.000 jenis pohon lenyap di Indonesia.
Literally lowest point as WNI, karhutla diliput sama mba Greta dan dia turun langsung ke Palangkaraya bukan sekedar repost doang
Nya ocipala sibut thew
BIG BREAKING NEWS
PEMERINTAH BERENCANA MEMBAGIKAN HANDPHONE GRATIS BAGI WNI
tujuannya mendukung layanan keuangan digital dan mengubah cara bansos disalurkan
rencananya warga yang belum punya rekening bank akan diberi rekening
rekening dipakai untuk menyalurkan bantuan secara digital
bsi dan bri ditugaskan membantu pembukaan rekening
biaya buka rekening yang dulu rp50.000 akan digratiskan
kutipan hashim: “setiap warga negara akan diberikan telepon genggam yang dilengkapi akun digital”
dana bantuan akan masuk ke akun itu dan disalurkan ke rekening masing-masing
alasannya menurut hashi dia merujuk bank dunia, sekitar 30 persen penduduk indonesia belum punya rekening bank
digitalisasi diharapkan memasukkan kegiatan ekonomi yang selama ini tidak tercatat ke sistem resmi
dengan begitu penerimaan negara bisa diperluas
rasio penerimaan negara sekarang sekitar 12 persen dari pdb, targetnya 18 persen
digitalisasi disebut salah satu cara, selain reformasi pajak dan perbaikan administrasi penerimaan
Pantesan, fitur baru rupanya. Dislike
Dear @X
Gak semua orang butuh penerjemah otomatis.
Gak semua orang cuma bisa satu bahasa kaya di Amerika sana.
Matiinnya gimana?
Untungnya di kampus aku, komunitas Indo lumayan solid sih. Sejauh ini belum nampak ada yang toxic atau crab mentality gitu, semua egalite. Cuma kalau dibandingin komunitas Pinoy tetap kalah sih
Kenapa banyak banget diaspora Indo yg kayak gini ya? Seolah mereka ga suka kalo ada orang Indo yg sukses di luar wkwk
Waktu gue kerja di Jepang dan SG malah lebih deket sama orang2 Filipin. Komunitas diaspora mereka solid banget.
Meanwhile diaspora Indo banyak yg gatekeeping dan ngerasa eksklusif. Ga semua, tapi cukup banyak sampai jadi stereotip.
























