TakingFarAway (@jeffgoingout) header
TakingFarAway (@jeffgoingout) profile picture

Who needs James Webb telescope when I can see my whole universe in you

Joined December 2019
Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)Photo by TakingFarAway (@jeffgoingout)
I don't know why a lot of people are surprised that many Chinese Indonesians still speak their own variants of Chinese at home. Maybe it's a rare thing in Java, but in places like Bangka, Medan, Singkawang, Pontianak, etc., they still speak & teach their children to speak their languages. You can watch videos on the Internet if you don't believe me Problem is, when they go to places like Malaysia, Singapore or to PRC, some Mandarin speakers accuse them of being "disconnected" from their roots because they don't speak Mandarin (i.e. the Putonghua). This is what I was criticizing; Their ancestors who came to Indonesia did not speak Mandarin in the 1st place; They did not come from Mandarin-speaking regions, so it makes no sense to say that they're "disconnected from their roots" because they do not speak Mandarin?
Actually the majority of Chinese people who came to Indonesia didn't even come from Mandarin speaking regions in the north; They instead come from the southern regions like Fujian & Guangdong & the likes BEFORE the Republic of China was even formed, so EVEN when their descendants do not speak Mandarin, they're not actually "forgetting their roots" like some people claimed Their ancestors most likely spoke other branches of the Chinese language like Hokkian, Hakka, Teochew etc. A lot of Indonesian Chinese still speak those languages at home these days
21
116
17
638
53,744
Pemerintah bingung karena MSCI gak bisa diteror, diculik, digebukin, atau disiram air keras.
235
18,618
309
57,364
791,512
TakingFarAway retweeted
1. Semoga bangsa ini sadar telah membabat habis hutan, yang mengakibatkan 30.000 jenis pohon lenyap di Indonesia.
2,179
17,738
2,410
18,308
oomfs who are into typography, tanda pengulangan 2 dgn dua garis bawah ni namanya apa deh ya? blm pernah kulihat dokumentasiny di mana pun … bentuk digitalnya aja gak ada dan penggunaannya baru kuliat di Indonesia doang deh, bhs lain gk punya. kpn pertama kali dipake ya?
Ciri warung makan enak itu bukanlah warung yang menunya pake AI. Ciri warung makan yang enak tuh yang ada tulisan begini.
56
408
59
7,349
385,698
Gue nemu harga bensin di Amerika langsung dari foto pompa bensin beneran. Terus gue bandingin sama Pertamax Indonesia yang baru naik. Hasilnya agak mencengangkan: Pertamax RON 92 Indonesia sekarang: Rp16.250/L Bensin setara di Amerika? Louisiana: Rp17.862/L Texas: Rp17.391/L California: Rp28.158/L New York: Rp21.299/L Tapi tunggu dulu. Kalau masukin faktor gaji minimum, ceritanya jadi makin brutal. – at Louisiana, USA
🤖 Made with AI
Gue heran deh kok masih aja ada orang yang bilang “Pertamax naik ga masalah, kan yang pake juga orang2 mampu” Entah mereka buzzer atau emang tolol alami. Yang jadi masalah itu EFEK DOMINO-nya, bukan cuma perkara harga naik 3ribu. Ini efek domino yang akan terjadi dari kenaikan per hari ini: 1. Migrasi massal ke BBM lebih murah.
Harga Pertamax naik → orang yang biasa pakai yang “premium” (kelas menengah atas) langsung switch ke Pertalite yang lebih murah. Hasilnya: permintaan Pertalite meledak. Padahal Pertalite kan kuotanya terbatas (subsidi), jadi stok di SPBU cepet habis. 2. Pertalite langka + antrean panjang. Antre Pertalite di SPBU jadi tambah rame. Yang gak mau antri berjam-jam atau gak kebagian akhirnya terpaksa isi Pertamax (yang lebih mahal). 3. Biaya logistik & transportasi naik
Truk, angkot, ojek online, pengiriman barang semua naik ongkosnya (meski mereka pakai solar/ Pertalite, tapi efek rantai supply-nya ikut naik karena driver dan perusahaan logistik juga kena imbas). Akhirnya harga barang di pasar naik semua. 4. Inflasi & harga sembako naik
Efek dari nomor 3: dari meja makan sampai warung kecil. Harga beras, sayur, mie instan, bahkan jasa ojek naik. UMKM yang paling kena getahnya. Modal produksi naik, daya beli masyarakat turun, penjualan melambat. 5. Black market & penyelundupan
Pertalite yang langka sering muncul di pedagang eceran dengan harga lebih mahal (kadang sama mahalnya Pertamax). Subsidi yang seharusnya buat rakyat kecil malah bocor. 6. Beban subsidi pemerintah membengkak. Demand Pertalite naik drastis → pemerintah/Pertamina harus nambah pasokan subsidi. Kalau gak diatur, APBN makin tekor, bisa-bisa akhirnya Pertalite juga naik atau dibatasi lebih ketat (misalnya pakai MyPertamina, plat nomor ganjil-genap, dll). 7. Efek jangka panjang ke ekonomi & masyarakat - Driver ojol & angkot kurangi shift → pendapatan turun. - Petani & nelayan (yang pakai solar/Pertalite) ongkos produksi naik → harga pangan naik lagi. - Inflasi umum naik → Bank Indonesia mungkin naikin suku bunga → pinjaman mahal → investasi melambat. Intinya, yang tadinya “cuma naik buat orang berduit” malah bikin semua orang kena getahnya lewat rantai yang panjang.
290
5,210
268
14,731
1,237,390
TakingFarAway retweeted
Replying to @nekoijo
Banyak yang bernarasi begitu dah. Padahal tiap manusia tuh beda beda, ga bisa dipukul rata segenerasi. Padahal kalo mereka pikir2, mostly gen z nih kesisaan ampas ketidak jelasan orang2 berpengaruh da sebagian banyak dar gen angkatan mereka. - Kita sulit cari kerja, karna sistem yang dikelola gen sebelumnya bergeser dan ancur (kriteria setinggi langit gaji minim, terlalu sedikitnya loker dan ga memberikan kemudahan ornag buat ujuk gigi dulu). - Terus juga warisan budaya rusak yang dijadiin patokan idealitas seorang pekerka (kesalahan berpikir overwork buat perusahan tanpa timbak balik adalah loyalitas, bukan eksploitasi) Itu kan dari kaum gen mereka, kita yang dicap malas ini cuma lagi mencoba menyeimbangi. Malah dibilang manja lah, ga setia lah, ga inisiatif lah. Cuma karna pulang tenggo, hari libur = me time, memanfaat kan jatah cuti sebaik mungkin dll. Mungkin emang ada genZ yang beneran males ke tanggung jawabnya sendiri. Tapi lebih banyaknya genZ yang dibilang males cuma karna mereka kerja sesuai porsi dan tanggung jawabnya aja.
1
1
9
363
TakingFarAway retweeted
Nah ini menarik banget 👀 Karena nama di kitab suci itu kasusnya agak beda dibanding nama biasa di anime atau kehidupan sehari-hari. Kalau “Megumi = Blessing” itu diterjemahin berdasarkan arti katanya, sedangkan nama-nama kayak Yohanes, John, Yahya itu lebih ke proses adaptasi lintas bahasa dan sejarah panjang, bukan diterjemahin literal. Contohnya gini: Ibrani: Yochanan Yunani: Ioannes Latin: Johannes Inggris: John Indonesia: Yohanes Arab: Yahya (walau ini ada perdebatan etimologinya dan tidak selalu dianggap bentuk langsung yang sama) atau; Ibrani: Yosef Inggris: Joseph Arab: Yusuf Jadi yang berubah itu bunyi dan penyesuaian fonologi tiap bahasa, bukan makna namanya diterjemahin. Sama kayak “محمد” jadi “Muhammad/Mohammed/Mohamad” tergantung sistem penulisan dan lidah bahasanya. Dalam linguistik dan studi penerjemahan, ini lebih dekat dg konsep transliteration, phonological adaptation, exonym/endonym daripada semantic translation. Makanya nama seperti “Joseph” nggak diterjemahin jadi “He Will Add” atau “Yohanes” nggak diubah jadi “God is Gracious” Karena fungsi utamanya tetap sebagai identitas orang, bukan kosakata biasa. Nama dalam kitab suci memang sering berubah bentuk karena beberapa alasan berikut: 1. teksnya berpindah bahasa berkali-kali, 2. tiap bahasa menyesuaikan bunyi yang bisa mereka ucapkan, 3. ada pengaruh budaya dan agama selama ratusan tahun. Jadi “John = Yohanes = Yahya” itu bukan hanya ranslate, tapi jejak perjalanan sejarah bahasa juga.
Replying to @NikolaTieko
Wahhhh sukaaaa pnjelasannya Dskusi dkit yuk Klo ksus nma2 di kitab suci gmana? Yohanes, john, yahya Yosef, joseph, yusuf dst
6
16
1
61
6,126
TakingFarAway retweeted
Ada sebuah istilah yang sering dipake chef-chef fine dining tapi jarang dibahas, namanya 'umami bomb', dan aku pernah nggak sengaja bikin. Saat itu belum ngerti masak yg bener kaya sekarang, pake bahan yang mungkin ada di dapur kita semua a thread 🧵💣
8
213
9
705
24,466
TakingFarAway retweeted
My take, itu bukan soal “sifat asli” It’s a stress response. Ketika seseorang dihadapkan dengan situasi yang stressful, secara insting setiap kita akan berubah ke mode defensif. Orang saat di mode defensif ini akan banyak mengeluarkan energi ataupun sikap negatif, kenapa? Karena dirinya merasa terancam. Ada perceived threats di dalam otak mereka. For me, itu bukan “sifat asli”, human behavior itu kompleks, kita ga bisa judge one’s character based on one event, apalagi di situasi yang stressful.
mau tau sifat asli seseorang? nah, ajakin lah dia traveling. Disitu akan keliatan semuaa emosi nya, egosentrisme nya, gengsi nya dan cara dia memperlakukan orang lain. Karena pada saat laper, capek, dan kadang rencana enggak sesuai ama yang dia mau, yang keluar itu bukan lagi pencitraan tapi sifat aslinya. Traveling itu ya, bukan cuma soal mem filter tapi tentang melihat versi asli seseorang tanpa topeng.
78
2,899
149
10,744
292,827
TakingFarAway retweeted
"Bagai pinang dibelah sembarangan" "Tak ada rotan, manoj punjabi" "U look so prett" "4 sehat 5 sempurna, 6 nilai sahroni, 7 nya ada 2, 8 gak ada apalagi 9” "U look so shy, shy tone" "Soal kalah, dia menang" "Di aku gak cocok, aku orangnya gampang meninggoy”
103
3,786
123
15,400
206,033
TakingFarAway retweeted
I want to be rich. But not Lamborghini or Rolex rich, I want to be rich enough to go to the gym at 3pm and nobody can tell me no. To tap the family in front of me at the supermarket and say, "It's on me," Rich enough that my future wife never has to worry about getting a job. Rich enough to show my children the world, not pictures of it. Rich enough to take my friends to dinner and say, "| got this", Rich enough that God uses me to help the people who are in need. That's my version of rich.
Daily reminder :
634
27,130
806
115,646
5,680,968
TakingFarAway retweeted
⚠️ 𝗗𝗜𝗦𝗜𝗡𝗙𝗢𝗥𝗠𝗔𝗦𝗜 Beredar informasi yang menyebutkan bahwa BMKG mengingatkan kemarau 2026 akan menjadi yang terparah dalam 30 tahun terakhir. Informasi tersebut 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁. Faktanya, BMKG menyampaikan bahwa 𝗰𝘂𝗿𝗮𝗵 𝗵𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝘂𝘀𝗶𝗺 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝘂 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗱𝗶𝗽𝗿𝗲𝗱𝗶𝗸𝘀𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹, yaitu 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘁𝗮-𝗿𝗮𝘁𝗮 𝗸𝗹𝗶𝗺𝗮𝘁𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝟯𝟬 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿. Sebagai perbandingan, musim kemarau yang telah terjadi pada tahun 1997, 2005, 2015 atau 2019 lebih kering bila dibandingkan dengan prediksi musim kemarau tahun 2026 Artinya, kondisi ini 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮-𝗺𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝘂 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝟯𝟬 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻, melainkan menunjukkan adanya potensi curah hujan yang lebih sedikit dari biasanya. Yuk, selalu cek informasi resmi dari BMKG agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. #InfoBMKG #Kemarau2026
109
1,490
105
3,618
288,752
TakingFarAway retweeted
lah di Indo jg apa2 ngerjain sendiri kok. Yang bilang tinggal di LN nggak enak karena apa2 harus sendiri besar kemungkinan dia upper class kalo di Indo yg ga merasa bersalah ngegaji ART atau bayar jasa dibawah harga layak. Makanya pas di LN berasa bgt menderitanya. Syukurin 😜
Apa apa harus ngerjain sendiri Siap? 😄
60
2,047
61
9,439
424,776
Kalau yang diajarkan dan sepengetahuan saya, masa Prapaskah itu berlangsung 40 hari, dimulai dari Rabu Abu sampai Minggu Palma (minggu sebelum pekan suci). - Ketentuan puasa yang wajib: Rabu Abu dan Jumat Agung - Puasanya seperti apa? 1 hari 1x makan kenyang. - Selain puasa, ada juga pantang (menghindari sesuatu yang kita suka, makanan atau kegiatan tertentu) ini wajib dilakukan tiap hari Jumat. Kalau mau puasa dan/atau pantang selama 40 hari full, boleh menyesuaikan dengan pribadi masing-masing. CMIIW
Replying to @canisiusandrew
Mau nanya kalo umat katolik puasanya berapa hari? Apa hari rabu ini aja?
15
122
21
768
143,499
TakingFarAway retweeted
mjb kak, nih ku jelasin dari awal jadi epstein itu orang yahudi amerika dulu mahasiswa pinter di sekolah lanjut matematika/fisika gt tp dia gak sampe lulus sekolahnya. nah tahun 70an (kl ga salah) tuh dia tbtb jadi guru di sekolah swasta yg isinya orkay2 bergengsi di manhattan
80
3,311
464
15,210
948,781
TakingFarAway retweeted
Akhir tahun Kemenaker merilis Kebutuhan Hidup Layak di tiap provinsi. Hampir di semua provinsi lebih tinggi dari UMP. Artinya, jika seseorang menerima gaji UMP, maka bisa dipastikan tak akan cukup buat kebutuhan sebulan.
221
2,092
840
4,480
312,353
TakingFarAway retweeted
Menurut pendapat saya, semua pertikaian sosmed mengenai kasus kekerasaan seksual terjadi karena negara gagal memberikan kepastian hukum. Sehingga rakyat dengan rakyat harus saling berdebat mempertanyakan posisi mereka satu sama lain. Berisiknya dapat, keadilannya tidak.
165
1,519
462
7,424
636,528
OPEN FOLLOW ‼️ Mimin mau followback beberapa orang nih, syaratnya: 1. RT & like tweet ini 2. Reply dengan alasan kalian memfollow english_menfess Let's goooooo ✨
22
20
1
25
4,750
TakingFarAway retweeted
Bismillah, ini Ririe istrinya Ibam, baru recover akun ini 🙏🏼 Terimakasih doa & support untuk Ibam sekeluarga yang sedang berjuang melewati masalah hukum saat ini.. Berikut cuplikan video cerita Ibam, perkenankan juga aku sebagai istri cerita soal yang keluarga kami alami.. 📝 Aku mengenal Ibam sejak 2010 ketika dia sedang kuliah beasiswa di Eropa. Setahun kemudian kami menikah dan nekat memulai hidup baru dari nol di Belanda. Di awal pernikahan kami, Ibam bekerja sebagai software engineer di perusahaan AI logistik di Rotterdam, sementara aku lanjut kuliah S2 di Tilburg pada tahun 2013. Jujur, kami memulai pernikahan dengan penuh keterbatasan. Akad nikah dan resepsi kami juga sederhana di rumah supaya bisa berhemat. Sesampainya di Belanda, we had to build everything on our own karena keluarga kami bukan yang bisa "menyuntik" dana kapanpun kalau kami ada kekurangan. Ketika aku mulai kuliah, kami pindah ke kota kecil, Dordrecht. Di sana kami berbagi satu rumah kecil mungil dengan keluarga lain. Semua demi berhemat uang untuk bayar kuliahku. Tapi alhamdulillah, atas izin Allah, di tengah keterbatasan itu, aku lulus S2 dan kami dikaruniai kehamilan anak pertama. Dari masa-masa sulit itu, aku mengenal satu hal pasti tentang suamiku: Ibam adalah pekerja keras dengan integritas tinggi. Dia sangat detail, perfeksionis, dan selalu berjalan lurus sesuai aturan. Ngga pernah neko-neko. Tahun 2016, kami berada di persimpangan jalan. Sahabatnya mengajak Ibam pulang ke Indonesia untuk membantu Bukalapak. Berat sekali rasanya meninggalkan Belanda yang sudah nyaman. Tapi setelah diskusi panjang dengan keluarga, kami memutuskan untuk pulang. Di Indonesia, Ibam mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun tim engineering di sana. Dia selalu semangat kalau cerita soal ketemu pelapak dan gimana mereka terbantu pakai aplikasi yang timnya bangun. But, as his wife, aku juga melihat ada harga yang harus dibayar: kesehatannya. Ibam memang punya riwayat jantung bawaan dari Ibu dan Kakeknya. Jantungnya selalu berkerja ekstra keras, detaknya selalu di atas 105 bpm walau sedang istirahat. Yang tadinya di Belanda ngga pernah sakit-sakitan, sejak balik ke Indonesia setiap tahun selalu saja ada penyakit berat yang datang dan perlu macam-macam operasi dan rawat inap. Puncaknya di tahun 2023, tubuhnya seakan kasih sinyal mau kolaps. Siang hari ketika sedang kerja, Ibam tiba-tiba muntah-muntah dan oleng tidak bisa jalan. Kami segera bawa Ibam ke UGD. Alhamdulillah, kondisinya bisa distabilkan. Beberapa bulan kemudian setelah di MRI, ternyata Ibam kena stroke ringan yang merusak saraf vestibularnya. Sejak itu aktivitasnya mulai terhambat. Belum lagi, setahun sebelumnya dia juga didiagnosa diabetes, yang juga turunan dari keluarganya. Jujur, aku tidak paham apakah semua penyakit ini saling berkaitan atau tidak, karena aku bukan dokter. Yang jelas, as someone closest to him, I can see that Ibam has not been physically well for the past few years. Mundur sedikit ke Desember 2019. Waktu itu Ibam dapat tawaran dari Facebook di Inggris. Setelah bolak-balik wawancara ke London, he got the offer. I still remember how happy he was when he told me about it. Sebagai istri yang waktu itu sedang hamil anak kedua, aku sudah membayangkan akan melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di sana. Tapi di saat bersamaan, Ibam dihubungi tim yang sedang bantu-bantu Kemendikbud. Mereka punya visi besar soal aplikasi untuk pendidikan Indonesia. Ibam galau. Tapi setelah ngobrol dengan mereka, dia cerita ke aku: "Kalau Facebook, 5-10 tahun lagi insya Allah masih ada. Tapi kesempatan bantu pemerintah dan pendidikan lewat teknologi kayak gini, langka banget rasanya. Ilmuku bangun aplikasi insya Allah bisa lebih bermanfaat buat banyak orang dengan kita tetap di Indo dan bikin aplikasi buat pendidikan Indonesia." Dan yang bikin kami lebih yakin, tim itu bilang semua biaya konsultan ditanggung sebuah yayasan dan ngga akan membebani negara sama sekali. Dengan bismillah dan istikharah, kami menolak London. Meski penghasilan jadi turun, kami yakin rezeki sudah diatur Allah. We said goodbye to London. Tahun berganti. Ibam bekerja sebagai konsultan eksternal kementerian sejak Januari 2020. Setelah kondisi kesehatannya makin nurun pasca stroke ringan, Ibam curhat ke aku kalau dia ingin resign. Dia ingin bangun startup sendiri sama temannya supaya bisa kerja sambil bedrest dari rumah. Di Juli 2024, setelah nabung dan kumpulin modal, mimpi sederhana itu akhirnya dimulai. Dia resign dan bikin startup AI yang support kesehatan mental. Tapi mimpi itu ngga bertahan lama. Tanggal 23 Mei 2025, hidup kami berubah drastis. Hari itu, ngga ada angin ngga ada hujan, rumah kami digeledah oleh APH (Aparat Penegak Hukum). Seumur hidup, belum pernah aku gemetar ketakutan seperti itu. Melihat petugas berseragam loreng hijau dan tim penyidik ada didalam rumah kami dengan jumlah yang ngga sedikit. Dengkul rasanya mau copot. Apa yang mereka tuduhkan terhadap Ibam? Tindak Pidana Korupsi yang merugikan negara. Rasanya seperti disambar petir. Ini kaya mimpi! Mustahil Ibam korupsi. Aku istri yang selalu bisa akses semua rekeningnya. Tidak pernah ada "uang kaget" atau dana ghaib masuk. Semua murni dari gajinya. Rasanya saat itu juga aku ingin langsung menyodorkan mutasi rekening kami ke para penyidik dan bilang, "Silakan cek, Pak!" Tidak ada yang kami tutupi. Lagipula, kalaupun Ibam dituduh merugikan negara, di bagian mana dia punya wewenang untuk ambil keputusan? Ibam selalu serahkan keputusan ke kementerian, he never had any authority to decide. Juli 2025, mimpi buruk itu menjadi nyata. Ibam ditetapkan sebagai tersangka. Aku menangis sejadi-jadinya, membayangkan nasib anak-anak kami. Coba bayangkan. Ibam itu posisinya cuma konsultan eksternal. Bukan pejabat, bukan PNS, apalagi pengambil keputusan. Tapi anehnya, dia malah dituduh "mengarahkan pengadaan" oleh para pejabat. Padahal dari awal Ibam kasih masukan tertulis untuk Windows juga, bukan cuma Chromebook. Dan sudah wanti-wanti kalau mereka mau pakai Chromebook ada risiko yang mereka perlu pastiin dulu. Tapi wanti-wantinya ngga didengar. Pejabat tetap jalan dengan keputusan mereka sendiri. Dan ketika jadi perkara, malah Ibam yang disalahin. Logikanya, kalau ada niat jahat untuk mengarahkan, kenapa mesti wanti-wanti soal risikonya? Ibam sudah berbuat layaknya seorang konsultan, kasih masukan objektif lalu serahkan keputusan ke pejabat. Yang lebih bikin nyesek, namanya dicatut di dalam SK dan kajian yang Ibam sendiri nggak pernah lihat wujudnya sampai kasus ini meledak. Di kajian itu ada kolom tanda tangan banyak orang dan kolom Ibam jelas-jelas kosong, tapi dia tetap dituduh yang nyusun kajiannya. Sekarang, Ibam jadi tahanan kota karena kondisi jantungnya yang rentan. Kami kehilangan segalanya. Ibam kehilangan pekerjaan, startup-nya berhenti dan harus layoff semua karyawan, dan keluarga kami kehilangan sumber nafkah. Tabungan kami sekarang hampir habis. Aku yang hanya ibu rumah tangga sekarang harus berdiri tegak mencari keadilan, termasuk mencari kuasa hukum yang sebisa mungkin pro bono karena kami ngga sanggup bayar pengacara Tipikor yang biayanya selangit. However, I truly believe there will always be a silver lining in everything, and Allah’s plan is always the best. Mungkin ini cara Allah mau menaikkan derajat Ibam di sisi-Nya. Di balik status tersangka ini, aku tahu integritas suamiku tak pernah berubah sejak kami susah payah di Belanda dulu. Aku memohon doa dan dukungan dari teman-teman semua untuk membagikan dan menyuarakan ketidakadilan ini. Semoga Ibam diberikan kebebasan dan keadilan. Semoga kami dan anak-anak bisa kembali hidup normal, dan badai ini segera berlalu. Allahumma aamiin.
169
2,680
317
4,320
516,266
Kerja paksa itu real, dikira ribuan orang mati selama program pembangunan jalan itu karena mereka gabut atau fomo aja pengen meninggal gitu?
This quoted post is unavailable.
38
658
30
4,312
246,255