kadang ketika sudah sayang sama seseorang, kita bisa jadi terlalu fokus mempertahankan hubungan itu. kita berusaha memahami dia, memaklumi kekurangannya, menyesuaikan diri dengan kebiasaannya, bahkan berkali-kali mencoba memperbaiki keadaan setiap kali ada masalah. semuanya dilakukan karena kita masih ingin hubungan itu berjalan dan berharap suatu hari nanti keadaan bisa menjadi lebih baik.
sebenarnya, berusaha mempertahankan hubungan itu nggak salah. dalam sebuah hubungan, memang akan ada masa ketika kita harus belajar memahami perbedaan, menurunkan ego, dan mencari jalan tengah. nggak mungkin dua orang selalu punya pemikiran yang sama. tapi ada perbedaan antara sama-sama berusaha mempertahankan hubungan dan hanya satu orang yang terus berusaha supaya hubungan itu nggak berakhir.
coba deh perhatikan, selama ini kita berusaha memperbaiki hubungan bersama-sama atau justru lebih sering menjadi orang yang memulai percakapan setelah bertengkar, menjelaskan apa yang membuat kita kecewa, dan mencari cara supaya semuanya kembali baik-baik saja? apakah pasangan juga punya keinginan untuk memahami kita, atau kita terlalu sibuk memahami dia sampai lupa bahwa diri sendiri juga ingin dimengerti?
sometimes, when we love someone, we become so focused on keeping them that we forget to ask ourselves whether we’re happy, too. kita bisa terlalu takut kehilangan seseorang sampai akhirnya menganggap hal-hal yang sebenarnya menyakiti kita sebagai sesuatu yang harus dimaklumi. setiap kali kecewa, kita mencari alasan untuk memahami dia. setiap kali merasa nggak dihargai, kita kembali meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin dia hanya sedang lelah atau belum bisa menunjukkan perasaannya dengan baik.
memahami pasangan memang penting, tetapi kebutuhan dan perasaan kita juga tetap punya tempat dalam hubungan. kita nggak harus selalu menjadi orang yang paling mengerti, paling sabar, atau paling banyak mengalah supaya bisa dianggap sebagai pasangan yang baik. hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi dua orang untuk sama-sama belajar, menyampaikan perasaan, dan memperbaiki kesalahan.
dan kalau suatu saat kita menyadari bahwa hubungan itu lebih sering membuat kita kehilangan ketenangan daripada merasa aman, nggak ada salahnya berhenti sebentar untuk mengevaluasi semuanya. bukan langsung menyerah ketika ada masalah, tetapi melihat apakah memang masih ada usaha dari kedua belah pihak untuk membuat hubungan itu menjadi lebih baik.
karena pada akhirnya, mempertahankan hubungan bukan cuma tentang bagaimana caranya supaya seseorang tetap tinggal. ada hal lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu bagaimana kita saling memperlakukan satu sama lain selama menjalani hubungan tersebut. kita boleh mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai dalam prosesnya kita terus mengabaikan diri sendiri. love should be something we build together, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan sendirian.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
kadang ketika ada kesempatan datang, kita langsung merasa harus mengambilnya. takut kalau ditolak nanti nggak ada kesempatan lain, takut dianggap nggak serius mengejar masa depan, atau takut melihat orang lain berkembang sementara kita masih di tempat yang sama. akhirnya, kita berusaha menerima banyak hal sekaligus tanpa benar-benar memikirkan apakah kita punya waktu dan tenaga untuk menjalaninya.
padahal, kesempatan yang bagus pun tetap perlu dipertimbangkan. misalnya, ada tawaran pekerjaan yang kelihatannya menjanjikan, tetapi ternyata waktunya bertabrakan dengan pendidikan yang sedang kita selesaikan. atau ada kegiatan menarik yang bisa menambah pengalaman, tetapi kalau diambil sekarang, kita malah kesulitan mengurus hal-hal yang sudah menjadi tanggung jawab kita.
terkadang kita terlalu fokus memikirkan apa yang mungkin hilang kalau menolak suatu kesempatan, sampai lupa memikirkan apa yang harus dikorbankan kalau kita menerimanya. padahal, setiap pilihan punya konsekuensi. menerima satu hal berarti kita juga sedang memberikan waktu, perhatian, dan energi yang mungkin sebelumnya digunakan untuk hal lain.
saying no doesn’t always mean you’re missing out. bisa jadi kita sedang memilih sesuatu yang lebih sesuai dengan prioritas saat ini. bukan berarti kita nggak ambisius atau takut mencoba hal baru, tetapi kita juga perlu tahu kapasitas diri sendiri. karena mengambil terlalu banyak kesempatan sekaligus nggak selalu membuat kita berkembang lebih cepat kalau akhirnya semuanya dijalani setengah-setengah.
jadi, sebelum mengatakan iya pada sesuatu, coba pikirkan dulu apakah hal itu memang sesuai dengan tujuan kita, apakah waktunya tepat, dan apakah kita sanggup bertanggung jawab atas pilihan tersebut. nggak semua kesempatan harus diambil hanya karena kesempatan itu datang. kadang, keputusan untuk melewatkan sesuatu juga merupakan bagian dari cara kita menentukan arah hidup sendiri.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
udah pernah nonton reog belum?
Kadang aku ngerasa makin dewasa, makin sadar kalau nggak semua hal perlu kita tanggapi. Ada orang yang salah paham sama kita, ada yang punya opini berbeda, dan ada juga yang menilai kita tanpa benar-benar tahu cerita lengkapnya. Dulu mungkin rasanya pengen menjelaskan semuanya, just to make sure people understand us.
Tapi lama-lama aku mikir, kenapa kita harus selalu sibuk membuktikan sesuatu ke orang lain? Padahal, nggak semua orang punya perspektif yang sama, dan nggak semua orang juga mau memahami kita. Sometimes, explaining yourself over and over again is just exhausting.
Bukan berarti kita nggak boleh menerima kritik atau mengakui kesalahan, ya. Kalau memang kita salah, of course we need to take accountability. Tapi kalau kita cuma berbeda pendapat atau nggak sesuai sama ekspektasi orang lain, mungkin nggak semuanya harus dibawa ke hati.
Menurutku, there’s a certain kind of peace yang muncul ketika kita mulai memilih mana yang layak mendapatkan energi kita dan mana yang nggak. Kita tetap bisa jadi orang yang baik tanpa harus selalu menjelaskan diri sendiri. Karena at the end of the day, kita nggak bisa mengontrol cara orang melihat kita, tapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.
Ada nggak sih yang kadang ngerasa harus banget punya hidup yang jelas di usia sekarang?
Kayak harus tahu mau jadi apa, harus punya penghasilan berapa, harus udah mencapai sesuatu, bahkan harus tahu lima tahun ke depan bakal jadi apa. Padahal, honestly, kita masih belajar mengenal diri sendiri.
I think social media makes this feeling even stronger. Kita bisa lihat pencapaian banyak orang dalam satu hari, terus tanpa sadar membandingkannya sama kehidupan kita yang sebenarnya punya cerita berbeda.
We see their highlights, but we live our own behind the scenes.
Menurutku, it's okay to have a plan, but it's also okay if your life doesn't follow that plan perfectly. Kamu boleh berubah pikiran, mulai lagi, atau menemukan sesuatu yang ternyata lebih cocok buat kamu.
Do you think we're actually behind in life, or are we just comparing our timeline to everyone else's?
There's something I've been thinking about lately: kita sering menganggap investasi itu cuma soal uang, saham, bisnis, atau hal-hal yang bisa menghasilkan keuntungan di masa depan.
Padahal, menurutku, kesehatan juga merupakan salah satu investasi paling penting yang sering kita anggap biasa sampai kita benar-benar membutuhkannya.
Bayangin kita menghabiskan bertahun-tahun buat membangun karier, menabung, mengejar impian, dan mempersiapkan masa depan. Tapi di tengah semua itu, kita terus mengabaikan waktu istirahat, jarang bergerak, dan nggak pernah benar-benar memperhatikan kondisi tubuh sendiri.
Of course, being healthy doesn't guarantee that we'll never get sick.
Lately, aku kepikiran satu hal tentang relationship. Menurutku, nggak semua orang yang kita suka harus jadi orang yang kita pilih buat masa depan.
Sometimes, you can genuinely like someone. Kamu suka cara dia ngobrol, cara dia memperlakukan kamu, bahkan hal-hal kecil yang mungkin orang lain nggak notice. But when it comes to building a life together, ternyata banyak hal yang nggak sejalan.
Bisa beda values, lifestyle, cara melihat komitmen, atau hal-hal yang menurut masing-masing orang penting. Dan menurutku, menyadari perbedaan itu bukan berarti kita terlalu picky.
Kita nggak harus menunggu seseorang jadi orang jahat dulu baru boleh merasa dia bukan orang yang tepat buat kita. Sometimes, they're good people, just not our people.
What do you think? Is loving someone enough, or does compatibility matter just as much?









