pernah nggak sih kamu tiba-tiba kangen sama seseorang padahal sebenarnya udah lama nggak ngobrol sama dia? terus mulai kepikiran masa-masa dulu, waktu masih sering cerita bareng tentang hal kecil, sering nanya lagi ngapain, atau sekadar ngobrol random sebelum tidur. hal-hal yang dulu kelihatannya biasa aja, tapi sekarang malah jadi sesuatu yang dikangenin.
terus kalau dipikir-pikir, yang sebenarnya kita kangenin itu orangnya atau kebiasaan waktu dia masih ada di hidup kita, sih? soalnya kadang kita kan udah terbiasa punya seseorang buat diajak cerita setiap hari. mau cerita hal lucu, hal menyebalkan, atau sekadar bilang kalau hari ini capek banget, rasanya selalu ada orang yang bisa dihubungi.
nah, pas semuanya tiba-tiba berhenti, ada bagian dari rutinitas kita yang ikut hilang. biasanya ada yang nanyain kabar, sekarang udah nggak ada. biasanya sebelum tidur masih ada teman ngobrol, sekarang malah bingung mau cerita ke siapa. akhirnya, pas lagi sepi, pikiran kita otomatis kembali ke orang yang dulu selalu ada.
dan sebenarnya, perasaan kayak gitu wajar banget, kok. apalagi kalau dulu kita memang dekat sama orang itu. bukan berarti kita nggak bisa move on atau harus balik lagi sama dia. kadang kita cuma lagi kangen sama sesuatu yang pernah jadi bagian dari keseharian kita.
cuma ya, jangan sampai karena kangen sama kebiasaannya, kita jadi lupa kenapa dulu semuanya berhenti. boleh kok kangen, boleh ingat hal-hal baiknya juga. tapi bukan berarti setiap kali kangen, kita harus kembali ke orang yang sama. kadang yang kita rindukan itu memang kenangannya, bukan berarti kita masih cocok buat menjalani semuanya sekali lagi.
kadang ada orang yang gampang banget bilang maaf, tapi kesalahan yang sama terus diulang. awalnya mungkin kita masih bisa memaklumi, namanya juga manusia pasti pernah salah. kita juga nggak mungkin selalu benar dalam memperlakukan orang lain. tapi kalau kejadiannya terus-terusan, lama-lama kita juga capek, apalagi kalau setiap kali dibahas, jawabannya selalu sama.
soalnya, minta maaf itu memang penting, tapi bukan berarti semuanya langsung selesai setelah kata maaf diucapkan. ada bagian yang lebih penting, yaitu bagaimana seseorang memperlakukan kita setelah dia tahu kalau tindakannya pernah menyakiti kita. apakah dia berusaha memahami kenapa kita kecewa, atau justru menganggap kita terlalu sensitif karena masih mempermasalahkan hal yang sama?
kadang yang bikin seseorang kehilangan kepercayaan itu bukan cuma kesalahan yang dilakukan, tetapi juga perasaan bahwa orang tersebut nggak benar-benar belajar dari kesalahannya. kita jadi bertanya-tanya, sebenarnya dia menyesal karena sudah menyakiti kita atau cuma nggak nyaman melihat kita kecewa?
at the end of the day, perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada permintaan maaf yang terdengar manis berkali-kali. bukan berarti seseorang nggak boleh melakukan kesalahan lagi, tapi harus ada usaha untuk memperbaiki diri. karena kalau memang sadar sudah melakukan kesalahan, seharusnya ada kemauan untuk nggak terus mengulang hal yang sama.
aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya βAku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.β
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. π€
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu.
Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We donβt know the whole story, right?
Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu.
Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we donβt always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
Kadang aku ngerasa makin dewasa, makin sadar kalau nggak semua hal perlu kita tanggapi. Ada orang yang salah paham sama kita, ada yang punya opini berbeda, dan ada juga yang menilai kita tanpa benar-benar tahu cerita lengkapnya. Dulu mungkin rasanya pengen menjelaskan semuanya, just to make sure people understand us.
Tapi lama-lama aku mikir, kenapa kita harus selalu sibuk membuktikan sesuatu ke orang lain? Padahal, nggak semua orang punya perspektif yang sama, dan nggak semua orang juga mau memahami kita. Sometimes, explaining yourself over and over again is just exhausting.
Bukan berarti kita nggak boleh menerima kritik atau mengakui kesalahan, ya. Kalau memang kita salah, of course we need to take accountability. Tapi kalau kita cuma berbeda pendapat atau nggak sesuai sama ekspektasi orang lain, mungkin nggak semuanya harus dibawa ke hati.
Menurutku, thereβs a certain kind of peace yang muncul ketika kita mulai memilih mana yang layak mendapatkan energi kita dan mana yang nggak. Kita tetap bisa jadi orang yang baik tanpa harus selalu menjelaskan diri sendiri. Karena at the end of the day, kita nggak bisa mengontrol cara orang melihat kita, tapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.


















